Sepasang mukena kulipat memanjang sebelum disampirkan di sebuah gantungan baju. Tidak ada adegan melipat sajadah seperti biasanya, karena sekarang aku sedang di mushala bandara, menunggu jadwal penerbangan yang masih cukup lama. Di atas karpet hijau mushala, aku menyandarkan punggung ke dinding. Tanganku mengambil selembar foto yang diselipkan di dompet.
Ayah, Mar rindu diantar Ayah setiap kemana-mana.
Biasanya, Ayah maupun Bunda tidak pernah mengizinkanku berpergian jauh, sekali pun bersama teman-teman. Sekarang, berbeda. Di rute panjang yang akan kutempuh ini justru aku sendirian. Mengantongi restu Bunda jadi alasanku tetap tegap berjalan, walau tak seorang pun menemani di sisi.
Setelah melalui banyak hal, bertemu malam-malam dengan mimpi paling buruk, berkali-kali disapa duka dan merangkul sepi, kedua telingaku akhirnya mendengar kalimat, "Selamat datang di Morotai!"
Kalimat sederhana yang hanya terdiri dari empat kata, tapi berhasil menghancurkan bendungan air mata. Tak pernah kusangka, aku ke Morotai bukan lagi semata untuk merampungkan riset yang akan menopang tulisanku, melainkan untuk seseorang yang kehadirannya telah mengubah banyak hal.
Bagai mimpi rasanya menginjakkan kaki di Pelabuhan Daruba yang selama ini hanya bisa aku lihat di internet. Menginap di resort tempat Mas Kahfi menginap dulu, menyantap kuliner khas yang memanjakan lidah, serta menyapa satu dari empat matahari Morotai di Army Dock sambil membayangkan kapal-kapal Sekutu datang membawa nuansa menegangkan seperti yang diceritakan Raden Soedirmo Boender dalam buku yang pernah kubaca.
Tidak ada lagi kesedihan seperti yang aku bayangkan. Tangis kesedihan berganti air mata haru. Pada akhirnya, hati kecilku tak lagi menyesali apa pun. Ia hanya mampu berterima kasih kepada Sang Maha Kuasa dan kepada laki-laki yang menjadi jembatan karunia-Nya. Laut bukan lagi musuhku. Kini, laut kupandang sebagai teman Mas Kahfi, yang pernah dengan setia menemani hari-hari sepinya hingga akhir hayat. Sama seperti teman-temannya di GNK.
Meski datang sendiri, aku berkelana dengan sepasang kaki dan hati yang kuat, ditemani beberapa teman baru yang diutus untuk membantu memudahkan pengelanaanku. Aku diajak menyusuri jalanan ibu kota Pulau Morotai. Lalu, mencoba naik bentor yang vibes-nya tidak kutemukan di Pulau Jawa.
Begitu teman pemanduku menjelaskan tentang tujuh landasan bersejarah di Perang Dunia II, ingatanku kembali melayang pada paragraf-paragraf di buku Terhempas Prahara ke Pasifik. Aku membayangkan tentara Jepang menyingkir ke pedalaman saat Sekutu mendarat di Morotai. Terbayang bagaimana tegangnya operasi gabungan yang mengharuskan Raden Soedirmo Boender melakukan terjun payung pertamanya itu demi misi merebut lapangan terbang. Bukan lapangan terbang biasa. Meski disebut kecil, lapangan terbang ini kelak menjadi tempat pendaratan berbagai jenis pesawat udara ampuh, seperti Dakota dan Mustang.