Blurb
Menjadi sukses itu impian bagi semua orang. Tapi bagi Marzuki, definisi sukses itu sederhana: yang penting dapur tetap ngebul dan nggak kena omelan mertua.
Marzuki adalah definisi nyata dari milenial serabutan yang penuh trik untuk bertahan hidup di Jakarta. Kerjanya? Apa aja yang penting menghasilkan komisi instan; mulai dari makelar tanah, rumah, jual-beli mobil seken, agen properti, sampe jadi broker entertainment dangdut di hajatan kampung. Penghasilannya tidak menentu—kadang sebulan bisa meraup pendapatan sebesar gaji manajer, tapi lebih sering di bawah UMR.
Modalnya cuma mulut manis dan muka tembok. Dia nggak bisa lihat cewek bening dikit, padahal di rumah kontrakan mertua yang ia tumpangi, Marzuki sudah punya bini cakep dan tiga orang anak. Ditambah lagi anak sulungnya, Fauzi, biaya sekolahnya harus ditanggung penuh oleh sang mertua karena dompet Marzuki lebih sering kempes daripada mengembang.
Bukannya tahu diri dan fokus jadi kepala keluarga yang lurus, Marzuki malah makin miring. Setiap kali dapet proyek job dangdut, matanya selalu jelalatan kalo udah melihat biduan berjidat licin.
Padahal wajahnya "Tampang Kodian"—istilah yang menggambarkan untuk muka pasaran, mirip daster di pasar Tanah Abang.
Bagi Marzuki, kerja serabutan itu biasa. Tapi ketika komisi percaloannya mulai seret dan sang bini mulai curiga kenapa suaminya mendadak rajin keluar malam dengan penampilan keren dan klimis, Marzuki harus bersiasat agar nasibnya tidak berakhir dihajar dan diusir dari rumah mertua.