Musim hujan kepanasan… Musim panas kehujanan…Pantaslah saja diriku… Selalu dalam keresahan…Kau janji-janji… Kau tawar-tawar…Kau janjikan, kau tawarkan cinta… Iming-iming saja…
Terdengar suara merdu biduan wanita lokal di atas panggung kecil, menyanyikan lagu dangdut milik Rita Sugiarto.
Suasananya sangat meriah. Maklum, lagi ada pesta perkawinan warga di Gang Taslim, Jatinegara. Suara dentum bass dari speaker besar di atas panggung bikin kaca-kaca jendela rumah warga ikut bergetar.
Aroma sedap hidangan resepsi di tenda hajatan bercampur dengan asap rokok, dan minyak wangi para tamu yang berdatangan.
Di kursi pelaminan duduk sepasang pengantin. Tapi sayang, kurang serasi. Jomplang. Mempelai wanitanya masih muda, paling banyak umurnya sekitar dua puluh sampe dua puluh dua tahun. Wajahnya lumayan cantik. Kulitnya putih mulus dengan riasan tebal yang bikin dia kelihatan sedikit lebih tua.
Kalo mempelai prianya, nah ini yang bikin nggak serasi. Umur mempelai prianya sekitar enam puluh sampe enam puluh lima tahun. Rambutnya masih hitam legam—bisa jadi disemir. Yah, mungkin emang udah jodoh. Duit juga sering kali bisa memperpendek jarak perbedaan umur.
Mana tampang mempelai prianya, maap ya, bukan nyela, tampang cekak, meskipun dompetnya tebel. Tapi kalo mau diperhatiin lebih saksama, pengantin prianya itu kelihatan perlente. Setelan jas birunya kelihatan licin, rapi, kayak baru keluar dari laundry premium di mall. Pas lagi duduk bersandar sambil menebar senyum, ujung lengan jasnya tersingkap sedikit.
Dari balik lengan jas itu, tersembul jam tangan Rolex Oyster Perpetual yang berkilau diterpa lampu pelaminan—jam tangan mewah yang harganya di kisaran 150 juta. Tapi bisa jadi itu merek palsu. Namanya juga jaman sekarang, apa-apa banyak yang palsu, dari mulai cinta sampe janji para politikus pas lagi pemilu.
Marzuki juga berada di sana. Padahal dia nggak diundang oleh pihak yang hajatan, karena emang nggak kenal sama sekali dengan keluarga kedua mempelai. Jangankan kenal sama yang lagi hajatan, tau nama pengantinnya aja kagak.
Yang dikenalnya cuma Sobari, pemilik grup musik dangdut lokal, yang lagi dapat job order malam itu. Marzuki sengaja dateng untuk menikmati hiburan dangdut live. Karena sering ketemu di berbagai lokasi hajatan dangdut, mereka jadi saling kenal.
Karakter Marzuki yang supel, luwes, ramah, dan mudah bergaul, akhirnya bikin Sobari merasa cocok untuk berteman. Setiap ada hajatan dangdut yang pake jasa orkesnya, Sobari pasti kontak Marzuki buat ngeramein suasana.
Di samping itu, kan lumayan juga kalo Marzuki nyawer tipis-tipis di awal acara buat mancing penonton lain ikut naik panggung, sekalian buat tambahan kru beli rokok.
Malam itu, si Juki udah keren maksimal pake kemeja merah buah naga dipadu celana katun ijo daun kelor andalannya.
Sebelum joget dan nyawer, Marzuki melipir dulu ke belakang panggung, menyusup di antara kerumunan anak muda dan bapak-bapak yang lagi asyik berjoget di bawah panggung. Dia nyamperin Kang Sobari yang lagi asik ngerokok ditemenin segelas kopi dan kue-kue.
"Assalamualaikum!” Marzuki menyapa ramah.
“Wa'alaikumussalam!” balas Sobari.
“Widiiih, Kang Sobari makin kenceng aje nih tarikan job-nye," lanjut Marzuki sok akrab, sambil menepuk pundak sang juragan musik.
"Eh, Bang Juki! Alhamdulillah, lumayan lagi rame. Mangga, duduk-duduk! Baru nyampe kan?”
“Baru banget.”
“Mau kopi?”
“Boleh.”
“Sebentar ya,” Sobari terlihat nyamperin seorang anak muda panitia hajatan.