BAB 1
Bangku di Dekat Jendela
Suara bel sekolah dasar berbunyi nyaring, memecah riuh pagi yang masih dipenuhi wajah-wajah baru.
Di halaman SD Harapan Bangsa, anak-anak berlarian sambil menggenggam tangan orang tua mereka. Ada yang tertawa, ada yang menangis karena enggan ditinggal. Aroma tanah yang masih basah oleh hujan semalam berpadu dengan wangi seragam baru yang masih kaku.
Di sudut halaman, seorang gadis kecil berdiri memeluk tas merah muda bergambar bunga matahari.
Namanya Ellen Anania.
Ia terus menggenggam ujung rok seragamnya. Matanya menatap ke arah gerbang sekolah, seolah berharap ibunya tidak benar-benar pergi.
"Jangan takut ya, Ellen. Ibu jemput nanti siang."
Ellen mengangguk pelan, meski air matanya mulai memenuhi pelupuk.
Begitu ibunya melangkah pergi, Ellen mengusap matanya sendiri. Ia mencoba terlihat kuat, meski dadanya dipenuhi rasa asing.
Hari itu adalah hari pertamanya masuk sekolah.
Segalanya terasa baru.
Teman baru.
Guru baru.
Dan dunia baru yang belum pernah ia kenal.
Di dalam kelas, Bu Ratna mulai memperkenalkan seluruh murid.
"Ellen Anania."
Ellen berdiri perlahan.
"Halo..."
Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.
Beberapa anak hanya tersenyum.
Sebagian lagi kembali sibuk dengan meja mereka.
Setelah semua selesai memperkenalkan diri, Bu Ratna berkata,
"Kalian boleh memilih tempat duduk."
Anak-anak langsung berebut bangku.
Hanya dalam hitungan detik, hampir seluruh kursi terisi.
Yang tersisa hanyalah sebuah bangku di dekat jendela.
Ellen berjalan pelan ke sana.
Ia menyukai jendela.
Dari sana ia bisa melihat langit.
Melihat pepohonan.
Dan membayangkan ibunya sedang tersenyum menunggunya pulang.
Baru saja ia hendak duduk...
Seorang gadis kecil berambut pendek berlari tergesa-gesa.