BAB 2
Bekal yang Dibagi Dua
Pagi-pagi sekali, Ellen sudah berdiri di depan gerbang SD Harapan Bangsa.
Embun masih menempel di daun-daun rumput. Udara terasa sejuk, dan sinar matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan yang mengelilingi sekolah.
Di tangannya tergenggam sebuah kotak bekal berwarna biru muda.
Ibunya tersenyum sebelum berpamitan.
"Hari ini jangan lupa dimakan semuanya, ya."
Ellen mengangguk.
"Iya, Bu."
Namun, sesungguhnya ia sudah memiliki rencana lain.
Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara langkah kecil yang begitu dikenalnya.
"Ellen!"
Agatha berlari sambil melambaikan tangan.
Napasnya sedikit terengah, tetapi senyumnya tetap selebar biasanya.
"Kamu datang pagi banget."
"Aku nungguin kamu."
"Serius?"
"Iya."
Wajah Agatha langsung berbinar.
Sejak hari pertama sekolah, keduanya hampir tidak pernah terpisah.
Mereka selalu masuk kelas bersama.
Duduk di bangku dekat jendela bersama.
Dan pulang bersama.
Saat jam istirahat berbunyi, Ellen membuka kotak bekalnya.
Isinya sederhana.
Nasi hangat, telur dadar berbentuk hati buatan ibunya, dan beberapa potong mentimun.
Agatha membuka bekalnya sendiri.
Hanya ada dua potong tempe goreng dan sedikit nasi.
Melihat itu, Ellen diam sejenak.
Tanpa berkata apa-apa, ia memindahkan setengah isi bekalnya ke kotak milik Agatha.
Agatha segera menggeleng.
"Jangan, nanti kamu kurang, ntar gak kenyang lagi."
Ellen tersenyum.
"Kalau dimakan sendiri kenyang."