Masih adakah surga untukku, bu?

Nazwa Nadya
Chapter #2

Telepon yang tak terjawab

Malam semakin larut, namun nyeri di ulu hati Lana tidak kunjung reda. Ia meringkuk di atas tempat tidur tipisnya yang terletak di kamar paling belakang,bekas gudang yang dipaksakan menjadi kamar.


Di ruangan sempit itu, hanya ada satu ventilasi kecil yang membiarkan udara malam masuk dengan kasar.


Lana meraih ponselnya lagi. Layarnya yang retak menyala, menampilkan foto wallpaper lama, seorang wanita cantik dengan gaun merah sedang memeluk seorang anak kecil berumur lima tahun. Itu adalah satu-satunya kenangan saat Lana masih menjadi "dunia" bagi Mamanya.


Dengan jari gemetar, Lana menekan tombol panggil.


Tuut... tuut...


Setiap nada sambung terasa seperti detak jantung yang berpacu. Satu kali, dua kali, hingga panggilan itu terputus otomatis. Lana mencoba lagi.


Ia hanya butuh mendengar suara itu. Bukan untuk mengeluh sakit, hanya untuk memastikan bahwa ia masih memiliki seorang ibu di dunia ini.


Pada percobaan ketiga, panggilan itu diangkat.


"Halo, Ma?" suara Lana serak, nyaris hilang.


"Lana? Ini sudah jam berapa? Kamu tahu kan Mama sedang ada acara  malam ini?" suara di seberang sana terdengar ketus, diiringi kebisingan musik jazz dan tawa orang-orang di latar belakang.


"Maaf, Ma... Lana cuma mau tanya, pesan Lana kemarin..."


"Lana, dengar ya," potong Mamanya cepat. "Mama sudah bilang, jangan sering-sering telepon kalau tidak mendesak.

Lihat selengkapnya