Di kamar sempitnya yang pengap, Lana duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang yang berderit.
Ia membuka buku catatan lusuhnya. Jemarinya yang semakin kurus memegang pena dengan gemetar.
Uang dari Mamanya tadi siang masih tergeletak di lantai, tak tersentuh.
Ia mulai menulis, bukan sebuah tugas sekolah, melainkan sebuah surat yang ia tahu takkan pernah punya keberanian untuk dikirim.
Mama, tadi di mal Mama cantik sekali saat tersenyum. Lana senang melihat Mama bahagia, meski bahagianya bukan karena Lana. Ma, tadi Lana ingin bilang kalau perut Lana sakit sekali.
Tapi sepertinya, rasa malu Mama jauh lebih besar daripada rasa sakitku.
Setetes darah kembali jatuh dari hidungnya, menodai kertas putih itu.
Lana membiarkannya. Warna merah itu tampak seperti segel kesedihan.
Ibu guru bilang surga ada di telapak kakimu. Tapi kenapa setiap kali aku ingin mendekat dan bersujud, telapak kakimu justru melangkah menjauh? Apakah surga itu sudah tertutup untuk anak seperti aku?