Lana berdiri di lorong rumah sakit yang beraroma disinfektan tajam. Ia sendirian, mengenakan jaket kebesaran untuk menutupi tubuhnya yang makin ringkih.
Setelah serangkaian tes yang menguras tabungan kecilnya, seorang dokter paruh baya memanggilnya masuk.
"Kamu ke sini sendiri, Lana? Di mana orang tuamu?" tanya dokter itu dengan tatapan iba yang sulit disembunyikan.
"Mereka sibuk, Dok. Langsung saja, saya sakit apa?"
Dokter itu menghela napas berat, lalu meletakkan beberapa lembar hasil laboratorium.
"Ada massa di perutmu, Lana. Kanker stadium lanjut. Sudah menyebar ke beberapa organ lain."
Dunia seolah berhenti berputar. Telinga Lana berdenging. Ia sudah menduga sesuatu yang buruk, tapi kata "stadium lanjut" terdengar seperti vonis mati.
"Berapa lama lagi, Dok?" tanya Lana pelan, tanpa air mata. Matanya justru terlihat kosong.
"Kita bisa coba kemoterapi, tapi peluangnya..." Dokter itu menggantung kalimatnya.
Lana tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyedihkan daripada tangisan.