Di sekolah, Lana adalah bayangan yang nyaris tak terlihat. Namun, Bima, teman sebangkunya yang pendiam, menyadari ada yang tidak beres.
Ia melihat tangan Lana gemetar saat memegang pulpen, dan keringat dingin terus membasahi pelipis gadis itu meski kipas angin kelas berputar kencang.
"Lan, kamu pucat sekali. Ke UKS saja, ya?" bisik Bima khawatir.
Lana menggeleng lemah, mencoba tersenyum meski bibirnya membiru.
"Aku cuma kurang tidur, Bim."
Saat jam istirahat, Lana terbatuk hebat. Ia segera menutup mulutnya dengan tisu.
Ketika ia menjauhkan tisu itu, noda merah pekat menghiasinya.
Bima terbelalak, namun Lana dengan cepat meremas tisu itu dan menyembunyikannya di dalam saku seragamnya yang kusam.
"Jangan bilang siapa-siapa, Bim. Tolong," pinta Lana dengan tatapan memohon yang begitu rapuh.
Bima terdiam, hatinya sesak. Di sekolah yang ramai ini, hanya ia yang melihat nyala lilin di dalam tubuh Lana yang mulai meredup, sementara dunia di luar sana tetap berjalan seolah-olah Lana baik-baik saja.