Masih adakah surga untukku, bu?

Nazwa Nadya
Chapter #11

Malam malam berdarah

Malam itu, sunyi di kamar Lana pecah oleh suara batuk yang menyiksa. Ia membekap mulutnya dengan bantal agar suaranya tidak menembus dinding kamar Ayah dan Ibu tirinya.


Namun, rasa hangat yang anyir tak terbendung lagi. Darah merembes, membasahi bantal dan tumpah ke lantai semen yang dingin.


Dengan tubuh yang gemetaran dan nafas yang pendek, Lana merangkak turun dari kasur. Ia tidak memanggil siapa pun.


Ia tahu, jika Ibu tirinya bangun dan melihat noda ini, ia hanya akan dimarahi karena dianggap jorok dan menambah beban cucian.


Sambil menahan perih yang mencabik perutnya, Lana mengambil kain pel lusuh di sudut kamar.


Ia menggosok lantai itu perlahan dengan sisa tenaga yang ada. Air matanya jatuh, bercampur dengan noda merah di lantai.


"Sakit, Tuhan... sebentar saja, biarkan aku istirahat," bisiknya lirih.


Setelah lantai bersih, ia mencuci kain itu di ember kecil dengan tangan yang kaku.


Di balik tembok, ia mendengar sayup-sayup tawa dari ruang tengah suara TV dan obrolan hangat keluarga "sempurna" itu.


Lana mematikan lampu, meringkuk di lantai yang masih lembap, membiarkan kegelapan menjadi satu-satunya kawan yang memeluk rasa sakitnya.

Lihat selengkapnya