Hari ini Lana genap berusia tujuh belas tahun. Di sekolah teman-temannya membicarakan pesta sweet seventeen, namun bagi Lana, hari ini hanyalah hari biasa yang terasa lebih berat.
Ia bangun dengan tubuh yang terasa remuk, menatap kalender kecil di atas meja belajarnya yang ia lingkari dengan tinta merah.
Di meja makan, suasananya meriah. Bukan untuk Lana, melainkan karena Siska baru saja mendapatkan nilai ujian yang bagus.
"Karena Siska hebat, malam ini kita makan besar di restoran Jepang ya!" seru Papa sambil mengusap kepala Siska.
Lana tertegun. Ia menunggu. Satu detik, dua detik, berharap Papa atau Ibu tirinya setidaknya mengucapkan "Selamat ulang tahun".
Namun, hingga mereka beranjak dari meja, tak ada satu pun kata itu terucap. Mereka berangkat, meninggalkan Lana sendirian di dapur yang sepi.
Lana mengeluarkan sepotong roti tawar dari plastik. Ia menyalakan sebuah korek api kayu, menatap apinya yang kecil dan bergoyang tertiup angin dari ventilasi.
"Selamat ulang tahun, Lana," bisiknya pada diri sendiri.
Ia tidak meniup api itu; api itu mati sendiri karena jarinya terlalu lemah untuk menahannya lebih lama.
Bersamaan dengan padamnya api itu, Lana merasakan setitik air mata jatuh ke rotinya.