Pelajaran olahraga adalah mimpi buruk bagi Lana. Di bawah terik matahari yang menyengat, ia dipaksa ikut lari mengelilingi lapangan.
Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk paru-parunya. Pandangannya mulai kabur, warna hijau rumput perlahan berubah menjadi bintik-bintik hitam yang berputar.
"Ayo Lana, jangan lembek! Masa lari pelan begitu saja tidak sanggup?" teriak guru olahraganya dari pinggir lapangan.
Lana mencoba menambah kecepatan, namun tiba-tiba dunianya jungkir balik.
Ia terjerembap, lututnya menghantam aspal dengan keras. Tapi bukan itu yang membuat teman-temannya menjerit.
Cairan merah kental keluar dengan deras dari hidung dan mulut Lana, mengotori seragam olahraga putihnya hingga merah padam.
Lana mencoba bernapas, namun yang keluar hanyalah suara tersedak yang mengerikan.
"Lana!" Bima berlari paling depan, menangkap tubuh Lana yang lemas sebelum kepalanya membentur tanah.
"Jangan... jangan kasih tahu Papa..." bisik Lana parau, matanya perlahan menutup.