Malam semakin larut, dan ruangan itu menjadi sangat sunyi. Detak monitor jantung melambat, beradu dengan nafas Lana yang terdengar berat dan tersendat.
Setiap tarikan nafas terasa seperti duri yang ditarik paksa dari dadanya.
Ia tidak lagi merasakan sakit fisik,seluruh tubuhnya sudah terasa kebas dan ringan.
Lana menatap ke arah pintu untuk terakhir kalinya, bukan karena berharap seseorang akan masuk, tapi untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang tidak pernah menyambutnya.
Pandangannya mulai memudar, berubah menjadi titik-titik cahaya putih yang lembut.
"Ibu..." bisiknya dengan tenaga terakhir.
Bukan panggilan untuk wanita yang telah menolaknya, melainkan sebuah seruan lirih kepada Sang Pencipta yang ia harap memiliki kasih sayang lebih besar dari siapapun.
Satu tarikan nafas panjang yang terakhir, lalu dada Lana tidak lagi bergerak. Garis di monitor berubah menjadi lurus dengan bunyi panjang yang memilukan.
Di wajahnya, tersisa sebuah senyum tipis yang tenangsenyum seorang anak yang akhirnya bebas dari rasa sakit yang tak tertanggungkan.