Setelah pemakaman sederhana yang hanya dihadiri segelintir orang, Ayah Lana pulang ke rumah dengan perasaan hampa yang aneh. Ia melangkah ke kamar Lana—ruangan yang jarang ia masuki.
Kamar itu dingin dan berdebu. Saat hendak mengemasi barang-barang Lana, ia menemukan sebuah kotak kayu kusam di bawah ranjang.
Di dalamnya terdapat jurnal harian dan tumpukan surat yang tak pernah sampai. Dengan tangan gemetar, sang Ayah membaca lembar demi lembar.
"Pa, maaf kalau Lana cuma bisa bikin repot. Lana tahu Papa capek cari uang. Lana cuma mau Papa tahu, sebelum Lana tidur, Lana selalu doakan supaya Papa sehat terus."
Ada juga foto kecil mereka bertiga saat Lana masih balita, yang sudah terlipat-lipat karena sering digenggam.
Ayah Lana terenyuh ia menyadari bahwa selama ini anaknya bukan sedang berakting sakit, melainkan sedang berjuang mati-matian untuk tetap dicintai di tengah cacian.
Pria keras itu jatuh terduduk di lantai, mendekap jurnal itu sambil menangis sejadi-jadinya. Penyesalan datang, namun pemilik hati yang tulus itu sudah pergi selamanya.