Masih adakah surga untukku, bu?

Nazwa Nadya
Chapter #21

Penyesalan yang terlambat (END)

Beberapa hari setelah gundukan tanah di makam Lana mengering, sebuah amplop cokelat kusam tiba di kediaman mewah Mama kandungnya.


Di teras rumah yang megah, wanita itu membukanya dengan tangan gemetar.


Di dalamnya terdapat selembar kertas yang bercak noda darah kering dan sebuah jepit rambut plastik berbentuk bunga yang warnanya sudah memudar hadiah terakhir yang Mama berikan pada Lana saat ia berusia tujuh tahun.


Wanita itu terduduk, napasnya tercekat saat membaca baris demi baris tulisan tangan Lana yang tampak sangat lemah dan miring


"Mama, saat Mama membaca surat ini, mungkin Lana sudah tidak bisa lagi membuat Mama merasa malu.


Maafkan Lana karena pernah datang ke mal dan ke rumah Mama tanpa diundang. Lana tahu kehadiran Lana merusak kebahagiaan baru Mama, tapi hari itu Lana hanya sangat rindu. Lana ingin bilang kalau Lana sakit, tapi melihat Mama bahagia, Lana rasa sakit Lana tidak lagi penting.


Lana simpan jepit rambut ini setiap hari, Ma. Lana memegangnya setiap kali Papa memukul atau Tante Miranda memaki Lana.


Lewat jepit ini, Lana berpura-pura Mama ada di samping Lana, membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Terima kasih sudah melahirkanku ke dunia ini, Ma.


Jangan menangis ya, Ma. Lana sudah tidak sakit lagi. Lana pergi dulu, supaya Mama bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang anak sepertiku. Lana sayang Mama, selamanya."


Tangisan histeris pecah di teras rumah mewah itu. Wanita yang selalu menjaga martabatnya itu kini bersimpuh di lantai, meremas jepit rambut kecil itu hingga melukai telapak tangannya.


Ia teringat tatapan mata Lana di rumah sakittatapan penuh harapan yang ia balas dengan usiran kejam. Ia baru menyadari bahwa anak yang ia buang demi reputasi adalah satu-satunya manusia yang mencintainya dengan tulus, bahkan di saat maut menjemput.


Di sisi lain kota, di pemakaman yang sepi dan basah oleh sisa hujan, Ayah Lana berdiri mematung. Ia meletakkan jurnal harian Lana yang telah ia baca habis di atas nisan yang masih putih bersih.


Bayangan ia menyeret Lana yang sedang pingsan di bawah hujan terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, menyiksa batinnya tanpa ampun.


Ia teringat betapa seringnya ia membentak Lana "drama" dan "pemalas", padahal saat itu anaknya sedang menahan hancurnya organ-organ di dalam tubuhnya.


Ia telah membunuh anaknya sendiri dengan ketidakpedulian yang kejam.


Lihat selengkapnya