Kalender di rumahku kebetulan hanya menampakkan tanggal warna hitam, merah dan hijau. Yang dapat kuartikan adalah, bahwa tanggal hitam berarti hari-hari pada umumnya, tanggal merah itu hari libur dan tanggal hijau khusus hari Jumat.
Tidak ada warna khusus untuk hari baik ataupun hari buruk.
"Ah maaf!"
Kukatakan lebih jelas, orang itu saja yang jalan tak sepenuhnya pakai mata. Sepasang kaki si brengsek ini bergerak untuk jalan, tapi matanya sibuk memelototi layar HP. Mentang-mentang ada gambar apel tak utuh di bagian belakangnya, dia pikir orang yang jalan akan langsung menepi?
Alhasil, aku yang saat itu sedang membawa kopi panas di nampan tanpa sengaja menabrak bahunya. Seperti adegan-adegan klise pada film dan cerita fiksi maupun fakta, nampanku terpeleset lantas cairan kopi membasahi kaosnya.
Dia melotot, sejak saat itu aku sudah siap untuk kumandang suara umpatan apa pun.
"Anjing, bangsat!"
Sejenak kami saling tatap. Para pengunjung yang tak seberapa langsung memalingkan muka menghadap kami.
"Kau bisa kerja, tidak?" Matanya masih depelotot-pelototkan.
Menyebalkan sekali.
"Kebetulan bisa," jawabku santai. "Maaf tidak sengaja, kami akan ganti rugi."
"Banyak omong!"
Tangannya yang kerempeng melayang dan mendarat tepat di pipi kiriku. Suara plakk terdengar begitu nyaring. Beberapa orang berjengit kaget, para gadis menutup mulut, tak butuh waktu lama untuk segera terdengar gumaman dan bisik-bisik. Namun, tak ada yang menolong.
Aku yakin pipiku terdapat watermark lima jari.
"Yuda!" Suara lantang seorang gadis berhasil mencegah brengsek berinisial Y ini untuk melancarkan jurus kedua. "Jangan lebay!"
Suara langkah kakinya terdengar mantap dan cepat mendatangi kami.
Aku melirik si gadis yang ternyata cukup cantik. Bermata lebar, alis panjang, bibir kemerahan, dan kulit seputih susu. Begitu ia sampai di sebelah si brengsek, si brengsek menggerutu.
"Dia kerja tak becus, tidak pakai mata, ada orang lewat ditabrak."
Brengsek kampungan!
Namun, si gadis sepertinya tak ingin berdebat lebih jauh. Ia maju selangkah, tepat di antara aku dan lelaki itu.
"Maaf, pacarku tidak sengaja. Aku akan ganti rugi."
"Tidak sengaja?" Lelaki itu tak terima. "Hei, dia yang menabrak orang, kenapa kita yang minta maaf?"
Gadis ini tak menghiraukan kicauan beliau. Dia menatapku cemas lalu buru-buru mengeluarkan uang dari dompetnya. "Ini, ambil saja kembaliannya."
Tanpa kuhitung pun aku tahu uang ini kelebihan banyak. Seharusnya mereka cukup membayar biaya dua kali uang kertas hijau, tapi yang kupegang sekarang justru warna merah.
Belum sempat aku memberi jawaban, si gadis cepat menarik lengan pacarnya dan pergi. Lamat-lamat terdengar suara jengkel.
"Kau membuat malu saja!"
Jujur, aku bingung harus melakukan apa. Aku di sini masih jadi perhatian orang banyak. Kembali kutatap uang merah itu, kupastikan memang uang asli. Saat balik kanan, terlihat barista lain di meja sana tersenyum mengejek menatapku.
Aku baru ingat, ternyata masih ada brengsek lain.