Masih Bisa Tersenyum

Rakanta
Chapter #2

Bab 2 - Tentang Kemudahan

Seorang mahasiswa di salah satu politeknik negeri kota, jurusan Teknik Elektro, itulah aku.

Beberapa orang berpikir bahwa Teknik Elektro dan Teknik Listrik itu sama, tapi kalian harus tahu bahwa dua jurusan ini memiliki perbedaan walaupun sama-sama bermain dengan kelistrikan.

Akan langsung kuberi contoh mudah agar cepat dipahami. Jika tak ada lampu rusak tapi lampu satu kampung mati, maka itu tugas Teknik Listrik. Jika listrik satu kampung hidup tapi lampu rumahmu mati, maka itu tugas Teknik Elektro untuk memperbaiki. Jika lampu tak ada yang rusak dan listrik mati-hidup-mati-hidup, itu mungkin sang petugas masih dalam masa magang.

Singkatnya seperti itu, kami bermain pada tegangan listrik arus kecil sedangkan Teknik Listrik bermain pada arus besar.

Hal hebat dimulai ketika keesokan harinya aku masuk kelas dalam mata kuliah bernama Sistem Kendali Analog.

Anggota kelompokku ada empat orang, melakukan sebuah praktikum menggunakan sensor suhu. Ukuran sensor itu kecil saja, tak ada satu ruas jari, tapi dia memiliki tiga kaki sepanjang dua ruas jari.

Di sana kami sudah berupaya sebaik mungkin, mengikuti langkah-langkah dengan amat cermat, tapi dasar hari sial, sensor yang kami gunakan rusak entah karena apa.

"Lalu bagaimana?" tanya Febri, teman sekelompok yang menyusun rangkaian bersamaku.

Aku melihat-lihat tubuh sensor itu. Sensor yang tak sebesar ruas jari itu dimasukkan ke dalam selongsong besi—memang ditambah selongsong dari pabrikannya. Ada tiga kabel yang menghubungkan ketiga kaki sensor di dalam. Sedangkan tiga ujung kabel lainnya dimasukkan ke rangkaian listrik. Dipandang sekilas, tak ada yang aneh dengan sensor itu.

"Kita bilang Pak Bas saja," usul Agung. Aku pun merasa bahwa itu adalah solusi terbaik.

Pak Bas, dosen kami itu setiap selesai menjelaskan materi perkuliahaan, dia akan pergi keluar ruangan dan kembali beberapa saat kemudian. Lalu pergi lagi, dan kembali lagi. Terus seperti itu.

Saat itu kami harus menunggu beberapa menit sampai Pak Bas kembali. Setelah dia duduk di kursi dosen, aku bersama Febri berjalan menghampiri untuk melapor perihal sensor tersebut.

Aku menjelaskan terkait masalah yang kami hadapi. Kabel sensor itu tadi mengeluarkan percik api yang tidak kami ketahui dari mana asalnya. Lalu kuceritakan pula bahwa ketika kami mencoba membalikkan posisi kabel, hasilnya sama saja.

Kemudian ....

Braaakk!!!

Meja digebrak dan seluruh kawan yang tadi sibuk berbagai hal segera bungkam untuk menatap kami.

"Kemarin saya sudah bilang, warna kabelnya memang terbalik! Kabel merah untuk negatif dan kabel hitam untuk positif! Jangan inisiatif sendiri!"

Aku terpaku di sana, begitu pula Febri. Kami sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa saat percobaan awal, cara pemasangan sudah benar sekali. Karena memercik api, kami memang membaliknya berharap akan lebih baik.

Jadi, kami berpikir bahwa ini adalah ulah kelas lain yang tadi menggunakan lab ini untuk praktikum. Perlu diketahui bahwa lab ini tak hanya digunakan oleh kelasku, tapi banyak kelas sekaligus.

"Ganti!" pungkasnya tak mau tahu.

Oke, satu kata untuk ini.

Bangsat!

Bukan kepada nasib, bukan kepada Pak Bas. Maksudku, kepada siapa saja yang telah merusak sensor ini dan pura-pura tidak lihat.

***

Setelah selesai dengan kuliah, sore harinya aku pergi bekerja untuk membantu bapak memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pukul 15.30 aku berangkat dari rumah dan pukul 15.45 aku tiba di parkiran cafe Mr. Ceng.

Hari ini aku satu shift dengan Nadia. Saat aku masuk sudah ada Nadia yang duduk di kursi kasir sambil bermain HP. Sedangkan Tohar yang ada di shift sebelumnya masih bersiap untuk pulang.

"Ada yang mencarimu," kata Tohar begitu aku tiba di dekatnya. Ia sedang mengambil jaket dari gantungan.

"Siapa?" Aku tak ingat akan ada janji temu atau semacamnya dengan teman di cafe ini.

"Perempuan." Lalu Tohar tersenyum aneh. "Pacarmu?"

Keheranan memenuhi diriku, maka tak kupedulikan candaan itu. "Di mana dia?"

Tohar menatap ke arah para pelanggan, memeriksa sejenak, lantas bergumam. "Mungkin dia belum kembali. Dia tadi bilang akan menunggu di luar saat kubilang kau masuk shift sore."

"Ciri-cirinya seperti apa?" Aku makin penasaran.

Sepertinya Tohar sudah terlalu lelah, dia buru-buru mengambil tas kecil dan membuka pintu karyawan untuk lekas pergi. "Sudah, nanti kau tahu sendiri. Aku pulang dulu."

Maka setelah selesai mengenakan celemek hitam khas cafe ini, aku membuka pintu ruang karyawan lalu duduk di sebelah Nadia.

"Ada yang mencarimu tadi," katanya bahkan tanpa mengangkat kepala.

"Sudah tahu."

Sungguh aku tak ingin beramah-tamah dengan si Brengsek 2 ini. Dia bukan tipikal orang yang selayaknya dijadikan teman. Diam saja kurasa lebih baik.

Satu per satu pelanggan datang dan pergi. Aku sudah beberapa kali keliling ruang untuk mengantar pesanan lalu kembali lagi ke meja kasir, tapi orang yang katanya mencariku belum juga tiba. Hal ini tentu membuat rasa penasaran semakin memuncak.

Lihat selengkapnya