Masih Bisa Tersenyum

Rakanta
Chapter #3

Bab 3 - Dewi Fortuna Tak Berpihak

Pulang dari kuliah, mandi, ganti baju, lalu kembali keluar untuk mengumpulkan uang di cafe Mr. Ceng. Aku menjalani itu dengan kurang semangat, jujur.

Dalam hati diam-diam mengutuk Pak Samun, padahal harusnya tenggat waktu pembayaran hutang masih kurang empat hari, tapi kata bapak orang itu mengubah jadwalnya menjadi kurang dua hari.

"Sialan ... sialan ...."

Kuparkirkan motor di tempat biasa. Hari ini aku kembali satu shift dengan Nadia, entah kapan aku satu shift dengan Tohar sehingga terjauh dari wanita brengsek itu.

Kurang lebih dua jam bekerja, tak ada yang salah, semua tampak normal biasa-biasa saja, tenang damai sejahtera. Ini membuatku bisa sedikit menghela napas lega dan duduk melepas penat.

Sampai tiba-tiba datang telepon dari bapak.

"Pak Samun bilang kalau hari ini tidak dibayar, maka bunganya akan naik lagi," demikian kata bapak. Sebenarnya banyak yang bapak katakan, tapi itulah intinya.

Saat ini aku ingin pergi ke rumah ibu Malin Kundang untuk kursus doa manjur. Tentang bagaimana trik rahasia agar ketika mulut mengutuk, maka subjek terkutuk itu akan jadi batu.

Terpaksa aku harus ke ATM untuk transfer uang kepada tokoh bajingan itu.

"Nad, aku mau keluar bentar, ya."

Seperti biasa, gadis itu duduk sambil memainkan HP nya dan saat mendengar suaraku, ia menoleh sesaat lantas mengangguk singkat.

Baik, aku harus cepat.

Peraturan bagi karyawan di cafe ini adalah tidak boleh meninggalkan tempat kerja lebih dari 15 menit. Mr. Ceng menerapkan aturan itu karena dia tidak ingin karyawannya suka menyepelekan tugas.

Aku lekas mengambil jaket di gantungan ruang karyawan dan segera tancap gas menuju ATM terdekat.

Ketika sampai sana, sepertinya Dewi Fortuna sedang berpaling dariku. Itu adalah ATM yang ada di dalam sebuah minimarket bernama Indojuni, ketika aku tiba di depan mesin penarik uang tersebut, baru tampaklah sebuah tulisan menyebalkan.

MAAF MESIN RUSAK

Helaan napas tanpa dapat kucegah meluncur keluar. Aku mencari mesin ATM lain yang letaknya agak jauh dari cafe, tapi kalau begitu aku akan keluar cafe lebih lama dari aturan.

Ah, bodo amat, kalau tak kubayar sekarang bisa-bisa bandot Samun itu mengambil kesempatan.

Beruntung di ATM kedua semua lancar jaya tanpa masalah, bahkan tidak ada antrean. Aku kembali ke cafe setelah memberi kabar kepada bapak bahwa hutang sudah terbayar, setidaknya cicilan bulan ini.

Begitu aku sampai di cafe, kutengok jam dinding dan sudah 25 menit berlalu. Ah, biarlah, toh Mr. Ceng tidak tahu. Tidak setiap hari ia datang ke cafe.

Lihat selengkapnya