Masih Bisa Tersenyum

Rakanta
Chapter #4

Bab 4-Tentang Hari Baik

Besok aku akan jadi orang sakti. Membela yang lemah tertindas dan melawan yang kuat semena-mena. Seandainya mahaguru tidak mencegah untuk menumpahkan darah, maka sudah ratusan kepala telah kupenggal.

Maaf, mungkin karena terlalu lelah aku jadi sedikit halusinasi. Namun, seandainya siapa pun ada yang tahu di mana makam Wiro Sableng, maka sekarang juga aku akan membanting celemek bedebah ini dan menjadi murid beliau.

Bayangkan saja, datang dengan semangat 45, langsung dipadamkan oleh pengumuman bahwa gaji akan dipangkas lagi.

Ulah siapa pula kalau bukan Brengsek 2.

Putri satu itu melapor kepada Baginda kalau aku telah meninggalkan tempat kerja selama lebih dari 15 menit. Begitu aku berusaha membela diri dengan memberi penjelasan sejelasnya, Baginda malah semakin murka dan mengancam akan mengusirku dari istananya.

Baiklah, resep nasib sial yang bagus dan indah.

Tohar menghampiriku yang sedang sibuk mengelap gelas bersih. Dia menatapku beberapa saat, tapi malas kuperhatikan.

“Memang keterlaluan bocah satu itu,” katanya dan tentu yang dimaksud adalah Sang Putri.

“Sejak kapan dia tidak keterlaluan?” Aku meletakkan gelas yang telah kubersihkan—walau tak kubersihkan pun masih tetap berkilau—lalu mengambil gelas lain. “Bulan ini gajiku dipotong dua kali, hebat.”

“Gara-gara dia?”

“Siapa lagi?”

Tohar menarik napas panjang. “Aku yakin kau pergi dari tempat kerja lebih dari lima belas menit pasti ada urusan. Tapi aku tidak tahu kejadiannya, aku ingin membelamu pasti dianggap dusta.”

Sedikit kisah tentang Tohar, dia juga seorang mahasiswa sepertiku, tapi kami tidak satu kampus. Dia mengambil jurusan Akuntansi, maka secara otomatis Tohar merupakan orang yang pandai bermain angka. Maksudku, melakukan perhitungan, secara jujur tentu saja.

Ketika ada pelanggan memesan cukup banyak, Tohar mampu melakukan perhitungan hanya mengandalkan kepala. Jadi ketika bersama Tohar, kalkulator jarang tersentuh.

Lalu, apa hubungannya antara kisah Tohar dan kisah sialku?

Dia juga bisa melakukan perhitungan lain.

“Sepertinya Nadia ingin mengeluarkanmu dari sini.”

Itulah perhitungan lain yang kumaksud.

Jujur, aku tak pernah terpikir sampai sana. Mengapa dia ingin sekali mengeluarkanku?

“Memang dia tak punya hati, dia tipe orang yang ingin sukses dengan cara menjatuhkan orang lain.” Tohar mendudukkan diri di kursi, membuka bukunya. “Kau harus hati-hati.”

“Aku selalu hati-hati,” sahutku cepat. “Dia saja yang pintar cari kesalahan.”

“Aku dan Mbak Yan juga sering jadi korban, tapi tidak separah kau. Dia pintar sekali kalau disuruh cari cacatnya orang.”

“Mungkin itulah yang dinamakan soft skill.”

Tohar terkekeh menanggapi.

Gelas-gelas bersih tadi telah selesai kubersihkan ulang. Aku mengelap gelas-gelas sebenarnya tidak untuk membersihkan, tapi hanya untuk melupakan nasib kacau ini. Setelah itu, karena bingung hendak berbuat apa, aku duduk di sebelah Tohar.

Lihat selengkapnya