Masih Bisa Tersenyum

Rakanta
Chapter #5

Bab 5-Pelajaran Hidup

“Kenapa Bapak bisa dipecat?”

Tentu saja aku terkejut luar biasa. Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba mendapat kabar dipecat.

Bapak tersenyum tipis, bapak hanya terlihat lelah, tapi tidak berduka.

“Ada mesin rusak di pabrik, kerusakan yang terjadi karena salah koordinasi. Bapak kurang tahu awal mulanya seperti apa, yang jelas ketika Bapak sampai di sana, mesin sudah kacau, tidak berjalan semestinya.”

“Kejadiannya sejak tiga hari lalu.” Bapak mengingat kejadian itu, dari wajahnya terlihat sedikit tekanan. “Tapi Bapak sengaja diam saja supaya kamu tidak kepikiran.”

“Berarti masalahnya sudah berlarut-larut?”

“Lumayan berlarut-larut.” Bapak mengangguk. “Bapak dan tim ditugaskan untuk memperbaiki mesin itu. Ketika hari ini kami melanjutkan perbaikan dan sedang istirahat, mesinnya tiba-tiba hidup dan mencelakakan salah satu teknisi pabrik. Kami satu tim kena marah, banyak teman-teman teknisi yang jadi korban itu menyalahkan Bapak sebagai ketua tim teledor. Keputusan akhir, pabrik memecat Bapak.”

Bapak adalah seorang lulusan SMK jurusan Teknik Mesin. Dia bekerja dengan mesin-mesin besar yang ada di pabrik. Ada dua tim Maintenance di pabrik tempat bapak bekerja, dan bapak menjadi ketua salah satu tim tersebut.

Semakin jauh Bapak bercerita, bapak bilang kalau mesin yang rusak kali ini adalah mesin bubut, di mana mesin itu sendiri mampu membuat baut, mur, dan benda-benda kerja lain yang terdapat ulirannya atau hal semacam itu. Kalau tidak berhati-hati bisa membuat tangan terjepit.

“Mesinnya mati, tak bisa digunakan. Kalau dipaksa untuk hidup, dia akan hidup mendadak. Takutnya ketika teknisi belum siap, mesin hidup dan tangan bisa terjepit. Maka dari itu tim Bapak ditugaskan memperbaikinya.”

“Tapi kenapa ketika istirahat mesin itu tiba-tiba bisa hidup?”

Bapak menggeleng beberapa kali sembari terkekeh singkat. “Bapak yakin karena kesalahan si teknisi itu sendiri. Mesin itu tak akan bisa dihidupkan kalau tidak ada yang menghidupkannya. Untuk mencabut sumber daya listrik dari pusat pun tak mungkin, letaknya jauh dan perkabelannya cukup membingungkan. Memang pabrik itu kurang teratur kalau soal hal semacam ini, tak diperhatikan sama sekali.”

“Padahal kami sudah memberi tanda bahwa mesin itu masih dalam tahap perbaikan.” Bapak kembali menggeleng-gelengkan kepala.

Aku merasa geram sekali. “Kenapa pula teknisi itu tiba-tiba menghidupkan mesin tanpa sebab?”

Bapak mengangkat bahu. “Entah. Yang jelas teknisi itu tangannya terjepit sampai patah, dan uang pesangon Bapak dipotong untuk pengobatannya. Jadi sebenarnya Bapak dipecat tanpa pesangon.”

“Apa?!”

Ini jelas tidak adil namanya. Kenapa para eksekutif sama sekali tidak mau memeriksa kenyataan yang terjadi di lapangan? Kenapa setiap orang yang duduk di kursi atas selalu memerintah dan tak pernah melihat orang yang di bawahnya sama sekali? Ini persis seperti kelakuan Mr. Ceng.

“Kenapa para atasan tak ada yang mau menyelidiki lebih dulu?”

“Semuanya penjilat,” kata bapak, masih dengan senyumnya. “Bahkan kalau CCTV di cek pun, akan ada saja alasan logis untuk menyalahkan Bapak. Kebetulan atasan dari teknisi yang celaka itu memang sering beda pendapat dengan Bapak dan tidak suka dengan tim Maintenance, mungkin ini kesempatan baginya.”

Lihat selengkapnya