Masih Bisa Tersenyum

Rakanta
Chapter #7

Bab 7-Soal Harga Diri

Kembali ke café, Tohar menjadi semakin heran melihat tingkahku. Tentu saja, setelah bertemu gadis tanpa nama yang sekarang sudah kuketahui namanya, apalagi rumahnya, siapa yang tak akan merasa berbunga-bunga.

Mungkin sejak masuk café sampai saat ini aku terlalu murah senyum sehingga perbedaannya cukup terasa. Namun, aku tak begitu peduli soal itu. Intinya, aku sudah tahu namanya, Kania!

“Kau kerasukan apa?” Tohar langsung menembak dengan pertanyaan luar biasa.

Bisa saja kujawab sejujurnya, tapi mana mungkin kukatakan secara terus terang? Biar saja ini jadi rahasia.

“Tidak kerasukan apa-apa.”

“Sungguh?”

Aku tertawa menanggapinya. “Bekerja harus dengan semangat.”

Tohar menggaruk kepala, kelihatan bingung bertanya-tanya. “Kemarin kau tidak sesemangat ini. Memangnya ada apa?”

Aku membiarkan pertanyaan itu menggantung tak terjawab. Mungkin selain pandai berhitung, Tohar juga membawa energi positif yang menyebar ke orang sekelilingnya.

Bersama Nadia, sepertinya aku tak pernah semujur ini. Selalu saja nasib sial yang datang menghampiri. Nona satu itu ingin sekali kukutuk jadi sesuatu yang lain, entah apalah yang jelas tidak lagi duduk berdua denganku di kursi kasir.

Perasaanku yang sedang baik membuat semangat berkobar dan tetap bertahan sampai malam tiba. Tingkat keramahanku meningkat, dan senyumku semakin ramah. Kuyakin para pelanggan yang datang sejak aku kembali dari rumah Kania akan merasa lebih puas.

Namun, semangat itu padam seketika—bukan perlahan—saat pada jam 8 malam hadir seseorang yang tak pernah kubayangkan, apalagi kuharapkan, akan kembali lagi ke sini.

Dia bersama tiga orang kawan yang bertampang seperti brengsek-brengsek juga. Entah kenapa tiba-tiba penilaianku langsung seekstrim itu. Intinya, aku tidak suka dia datang.

Dia adalah brengsek inisial Y, yang kaosnya pernah kubasahi dengan kopi panas. Kania memanggilnya Yuda, maka anggap saja namanya Yuda.

Yuda duduk di kursi pilihannya bersama dua kawan lain, sedangkan seorang lagi menghampiri meja kasir untuk memesan.

“Cappuccino empat,” katanya sambil menunjukkan empat jarinya, dari telunjuk sampai kelingking.

Ketika proses pemesanan itu, aku saling bertukar pandang kepada si Yuda selama beberapa saat. Dari lubuk hati sudah terdengar suara jeritan bahwa sebentar lagi akan terjadi drama film FTV. Akan tetapi, si pemesan sudah pergi dan ini waktunya bekerja membuat kopi.

“Aku tak suka dia.” Di tengah-tengah membuat kopi, aku berbisik kepada Tohar.

Dia yang juga sedang membuat pesanan, melirikku sekilas. “Tidak suka kepada siapa?”

“Yang duduk di sana, pakai jaket hitam, namanya Yuda. Gajiku kemarin dipotong gara-gara dia.”

“Hah, kenapa bisa begitu?” Tohar juga sudah tahu tentang gajiku dipotong karena tanpa sengaja menumpahkan kopi. “Jadi dia yang bajunya tanpa sengaja kau tumpahkan kopi?”

“Dia sendiri yang salah, jalan tidak lihat jalan malah lihat HP.” Karena sebal, gerakan tanganku jadi makin kasar saat mengaduk kopi. “Gara-gara Nadia pula, mulut ember satu itu, kau tahulah bagaimana. Akhirnya gajiku dipotong.”

“Kalau begitu, biar aku saja yang mengantar pesanan ini ke sana.”

“Terima kasih.” Sungguh teman yang pengertian, tidak seperti Nona.

Selesai membuat empat cangkir cappuccino, Tohar meletakkannya ke atas nampan lalu melangkah gesit menuju meja tujuan. Dalam waktu singkat, dia sudah kembali lagi ke sebelahku.

“Seharusnya kausiram saja kepalanya dengan kopi itu,” kataku jengkel sambil melihat punggung Yuda yang duduk membelakangiku.

Tohar hanya terkekeh.

Lihat selengkapnya