Waktu terus bergulir, dunia terus berjalan, tak terasa satu minggu pun berselang.
Setiap harinya kami sepulang kuliah selalu sibuk dengan project robot yang tak pernah sekali pun berjalan mulus. Selesai mengganti komponen penggerak roda, ketika naik tangga dia oleng ke kanan dan kiri. Setelah selesai dengan itu, rodanya yang dari akrilik justru patah. Keesokan harinya, roda akrilik patah kembali di tempat yang berbeda.
Mengeluh dan mengumpat sudah terdengar ribuan kali. Apalagi tenggat waktu tak bisa ditambah, justru terus berkurang.
Ini membuat aku kadang susah tidur dan susah fokus saat melakukan berbagai kegiatan. Pernah sekali waktu aku ingin menyeduh teh panas saat hujan deras, entah bagaimana ketika selesai yang mengisi cangkirku adalah kopi hitam.
Mungkin terlalu berlebihan, tapi tekanan dari tenggat waktu, hutang Pak Samun, dan potong gaji Baginda benar-benar membuatku hampir gila.
Ini baru awal bulan, tapi Pak Samun sudah menelpon bapak untuk mengingatkan supaya tidak telat membayar hutang bulan ini. Memang bajingan orang satu itu.
Beberapa hari lalu, café tempatku bekerja kedatangan orang baru, namanya Bastian. Rasanya agak heran ketika Mr. Ceng memperkenalkannya kepada kami. Pasalnya, kami tidak sedang membutuhkan pelayan tambahan. Empat orang untuk dua shift, itu sudah cukup dengan ukuran café milik Mr. Ceng. Walau café itu lumayan besar, tapi pelanggan yang datang tak pernah sampai antri panjang.
Selesai Mr. Ceng memperkenalkannya, aku memiliki firasat buruk. Ternyata Bastian masihlah sepupu Nadia, langsung saja aku tahu bagaimana ia bisa masuk sini walau tak ada lowongan.
Wajar saja, kan, kalau aku berpikir bawah wataknya sedikit banyak sama dengan Nadia. Lidahnya hanya untuk membicarakan kesalahan rekan kerja, dan ketika bercerita selalu dibumbui dengan bumbu yang tidak perlu.
Entah bagaimana Mr. Ceng mengatur jadwal masuk karyawannya, aku tidak merasa penasaran karena jadwal masukku tetap sama, yaitu setiap sore Senin sampai Sabtu. Akan tetapi, hari Selasa itu aku satu shift dengan Bastian.
Itu adalah momen ketika aku merasa malu kepada diri sendiri. Ternyata Bastian jauh berbeda dengan sepupunya. Dia ramah, murah senyum, dan enak diajak bicara. Wajahnya pun lumayan tampan dengan rambut tertata rapi dan hidung mancung, cocok sekali menjadi barista seperti yang ada di film-film.
Kebetulan dia juga pernah menjadi barista di café lain, dan sekarang secara sukarela mengajarkanku cara membuat cappuccino yang enak.
“Begini caranya.” Ia memegang dua cangkir di mana satu berisi kopi dan satu lagi berisi susu. “Bayangkan di permukaan kopinya sudah ada pola yang harus diikuti. Kau tinggal perlu mengikutinya saja.”
Dengan lihai sekali, ia menuangkan secangkir susu ke kopi yang ia pegang di tangan kiri. Aku melihatnya penuh kagum dengan mulut setengah terbuka.
Tangan Bastian bergerak luwes dan terampil, berkelok-kelok dan entah bagaimana saat aku sadar sudah terdapat pola daun di permukaan kopi tersebut.
Dia menunjukkannya dengan bangga. “Nah, sekarang cappuccinonya jadi kelihatan lebih bagus.”
Belum lengkap kalau cappuccino tidak diberi taburan coklat. Maka Bastian mengambil bungkusan kecil coklat untuk cappuccino dan menaburkannya di sana.
Maka hasilnya adalah mahakarya luar biasa. Di mataku, itu bagai keajaiban dunia.
Mr. Ceng tak pernah repot-repot mengajarkan kami cara membuat kopi dengan gambar seperti ini. Jika Bastian punya ilmunya dan mau mengangkat kami jadi murid, pasti daya tarik café ini semakin meningkat.
Dan kalau aku bisa menguasainya, siapa tahu omelan Mr. Ceng jadi sedikit berkurang.
“Sudah banyak café sekarang yang kopinya bergambar. Kalau tidak lekas ikut-ikutan seperti itu, orang bisa pergi nanti,” katanya sambil terkekeh.
Aku kadang suka berpikir, bukankah kalau orang menjual makanan atau minuman, maka yang jadi nilai utama adalah rasa?
Kukatakanlah pendapatku itu. “Bukankah usaha minum atau makan yang paling utama adalah rasanya?”
Bastian tersenyum tipis. “Rasa jelas yang paling utama dan komponen penting. Tapi tampilan juga tak kalah penting. Anak-anak muda sekarang banyak yang suka memposting apa yang mereka makan dan minum di sosial media. Jika kopi kita biasa-biasa saja, tentu kurang bagus untuk jadi bahan konten, kan?”
Masuk akal, batinku sambil mengangguk-angguk.
Apalagi anak-anak sekarang suka sekali untuk sekadar “ikut-ikutan”. Teman-temannya posting sesuatu, maka dia akan merasa kurang jika tidak ikut memposting pula. Bahasa kerennya, fomo. Mungkin itulah yang dimaksudkan Bastian.