Masih Bisa Tersenyum

Rakanta
Chapter #10

Bab 10-Secangkir Kopi Bersamanya

Ternyata Kania adalah mahasiswa jurusan akuntansi. Sama seperti Tohar, harusnya Kania juga pandai hitung-hitungan. Beruntung, wawancara kali ini tidak soal menghitung angka, tapi hanya berupa pertanyaan-pertanyaan ringan seperti bagaimana aku mengatur keuangan dengan rumah mengontrak dan gaji dari café. Bagaimana aku mengatur jajanku, menyisihkan uang untuk keperluan kuliah dan rumah, dan lain sebagainya.

Setelah selesai wawancara, aku pun kembali ke meja kasir bersama Bastian. Lima belas menit berlalu, rombongan Kania telah pergi meninggalkan café satu per satu, tapi tidak dengan gadis itu sendiri.

Setelah mereka semua pergi, dia justru menghampiri meja kasir. “Maaf, boleh aku gambar café ini?”

Bastian memandang heran. “Digambar? Untuk apa?”

“Untuk presentasi kami di kampus. Sekadar untuk jadi ciri khas kelompok kami. Daripada langsung foto, kami menyertakan gambar tangannya juga.”

“Oh, kamu bisa gambar?” Bastian kelihatan tertarik, aku yang mendengar pun juga tertarik.

Kania tersenyum malu. “Tidak, hanya hobi.”

“Tidak apa, silahkan gambar saja apa yang kamu mau.”

“Terima kasih, Kak.”

Senyum Kania tampak semanis madu.

Mungkin terlalu berlebihan aku menganggapnya demikian, tapi terserah apa anggapanku kepada orang lain.

Satu hal yang daritadi aku tak habis pikir, kenapa Kania selalu memanggil Bastian dengan sebutan “Kak” sedangkan denganku “Mas”? Apakah tampangku lebih cocok sebagai “mas-mas” daripada “kakak-kakak”?

Entah sejak kapan aku bercermin di layar HP.

Café tutup jam sembilan dan sekarang sudah jam sembilan lewat lima. Aku membalik tanda “OPEN” menjadi “NO OPEN”.

Benar, itu bukan salah ketik atau apa. Mr. Ceng berpendapat bahwa agar tempat ini mudah diingat perlu yang namanya “ciri khas”. Terserahlah dengan apa ciri khasmu, wahai Baginda.

“Aku bersihkan lantai, kau yang hitung uang,” usulku.

“Aku akan bersihkan meja ini sekalian, kau cukup bersihkan lantai dan meja yang lain.”

“Sepakat!”

Maka kami melakukan pekerjaan terakhir. Aku merapikan tata letak meja dan kursi hingga tampak rapi menarik seperti keadaan awal sebelum buka. Tak lupa pula mengepel lantai sampai licin.

Bastian tentu lebih cepat selesai, tapi aku tak mengapa karena memang itu yang kuinginkan. Dia anak baru, sebagai senior tak apalah sesekali memberi keringanan pada junior.

“Kau boleh pulang dulu.” Aku kala itu sedang mengepel bagian bawah meja dekat vas bunga di pojok ruang. “Biar aku yang kunci.”

Bastian yang tadi memutuskan untuk membantu meletakkan kembali embernya. “Kau yakin?”

Satu anggukan cukup baginya untuk paham.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu dan terima kasih untuk hari ini.” Ia berbalik lalu terdengar langkahnya berjalan menjauh. Setelah beberapa saat, Bastian kembali menghadapku. “Temanmu itu masih di sini.”

Aku juga sadar akan hal itu.

Aku yang tak paham tentang seni rupa sama sekali tidak mengerti berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang pelukis untuk menciptakan karya. Entah berapa banyak gambar yang dibuat oleh Kania, tapi sejak tadi aku melihatnya duduk di tempat-tempat berbeda.

Kadang duduk di luar, kadang duduk di sisi depan café, kadang di samping, beberapa kali ada di dalam.

“Ya, kau pergi saja, biar aku yang mengurusnya.” Aku masih melanjutkan pekerjaanku mengepel lantai.

Bastian tertawa kecil. “Jangan usir dia, ya.”

“Hahaha, tak mungkin.”

Setelah Bastian pergi, beberapa saat kemudian pekerjaanku pun selesai.

Pada saat itu, Kania duduk di tempat agak jauh dari café, di bagian samping. Sesekali ia melihat bangunan ini, lalu menggoreskan bentuk di kertas gambarnya.

Lihat selengkapnya