Pagi di rumah itu bergerak cepat, tapi anehnya tetap terasa hangat. Cahaya matahari masuk setengah lewat tirai tipis warna krem di kamar utama, jatuh di lantai kayu dan ujung kasur besar yang belum sepenuhnya rapi. Pendingin ruangan masih menyala pelan, bercampur dengan aroma coffee beans yang tadi digiling Raga sendiri sebelum naik lagi ke kamar. Dari ujung ruang dekat meja kerja, suara notifikasi email dan bunyi keyboard bersahut-sahutan sejak hampir satu jam lalu. Hari kerja sudah dimulai bahkan sebelum mereka benar-benar selesai menikmati pagi.
Raga duduk di meja kerjanya dekat connecting door menuju kamar Zeemar, masih dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya rapi, wajahnya fokus menatap dua monitor menyala berdampingan. Laptop terbuka. Blueprint proyek apartemen di TB Simatupang terpampang di layar sebelah kiri lengkap dengan revisi facade dan catatan klien yang semalam masih ia kerjakan sampai hampir pukul satu dini hari. Tapi pagi itu ia belum benar-benar meeting. Baru koordinasi lewat telepon dengan project manager dan tim QS yang suaranya masih terdengar samar dari speaker laptop.
“Pokoknya façade mock up harus naik minggu depan. Jangan mundur lagi,” katanya sambil mengetik cepat. “Klien udah minta final progress pagi ini.”
Di belakangnya, suasana jauh lebih berantakan. Zeemar duduk di tengah kasur besar orangtuanya sambil memainkan piano kecil warna-warni yang kalau ditekan bunyinya terlalu nyaring untuk pagi hari. Tubuh kecil enam setengah bulan itu masih agak oleng menjaga keseimbangan duduknya, tapi ekspresinya serius sekali setiap berhasil memencet tombol bunyi. Kadang ia tertawa sendiri, kadang menoleh ke mana-mana seperti memastikan semua orang memperhatikan konser pribadinya.
Sementara itu Zara duduk di depan meja rias dengan robe satin champagne yang diikat longgar di pinggang. Rambutnya setengah kering dijepit asal ke belakang. Tangannya sibuk merapikan alis sambil sesekali melirik pantulan Zeemar di cermin.
“Hati-hati, Kakang…” gumamnya lembut waktu anak kecil itu terlalu semangat membungkuk ke depan.
TIN TIN TINNNN.
Suara piano mainan kembali memenuhi kamar. Raga yang sedang mengetik berhenti sepersekian detik, menoleh ke belakang, lalu menghela napas kecil sambil senyum tipis.
“Dia kalau pagi energinya kayak habis dicas semalaman,” gumamnya.
Zara tertawa kecil.
“Mirip Papapnya.”
“Kombinasi sama Mamamnya yang kuat nggak tidur jaman residen juga kayaknya.”
Beberapa menit kemudian suasana masih berjalan normal sampai tiba-tiba Raga berhenti bergerak. Tangannya yang tadi meraih sisi meja mendadak kosong. Keningnya langsung berkerut. Ia melihat ke kanan, lalu kiri. Tangannya mulai menggeser notebook, membuka map, mengangkat mouse pad. Diam dua detik.
“Enggak mungkin hilang…” gumamnya sendiri, lebih terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan diri.
Raga mengembuskan napas panjang, lalu memijat pelipis sebentar sebelum kembali membongkar meja dengan gerakan yang mulai tidak sabar.
Zara menoleh dari meja rias sebelum menanggapi.
“Kamu cari apa?”
“My AirPods.”
“Hilang?” konfirmasi Zara dipanggil Raga.
“Iya, AirPods aku di mana ya?”
Sekarang gerakannya mulai cepat. Raga membuka laci atas meja. Tutup lagi. Membungkuk melihat bawah monitor. Tangannya mulai memindahkan barang lebih kasar dari biasanya. Jam meeting tinggal beberapa menit. Terlebih pagi itu ia benar-benar harus presentasi langsung.
“Coba cari pelan-pelan dulu, Sayang.”
“Ini juga sambil nyari, Sayang. Kalau udah nemu aku nggak mungkin panik begini.”
Zara langsung berjalan mendekat sambil menahan senyum kecil melihat wajah serius suaminya yang mendadak tegang gara-gara kehilangan benda kecil putih.
“Terakhir dipakai kapan?”
“Semalam.”
“Di mana?”
“Di sini.”
“Udah dicek tas?”
“Udah!”
“Laci?”
“Udah!”