Pukul sembilan pagi di Kebayoran Baru masih menyisa embun. Jalan Martimbang yang rindang baru saja selesai melepas antrean orang tua yang mengantar anak ke sekolah ketika sebuah SUV hitam berhenti pelan di depan bangunan dua lantai bercat putih dengan jendela-jendela tinggi bergaya kolonial. Halaman depannya tidak besar, tetapi dipenuhi tanaman hijau yang membuat udara terasa lebih sejuk.
Di balik pintu kaca, ruangan dipenuhi cahaya matahari yang masuk tanpa banyak penghalang. Rak-rak kayu rendah berisi aparatus Montessori tertata rapi. Tidak ada warna-warna mencolok, tidak ada musik keras, tidak ada layar menyala. Semuanya terasa tenang, seolah memang sengaja dirancang agar anak-anak kecil bisa sibuk menemukan dunianya sendiri. Raga mematikan mesin mobil lebih dulu sebelum menoleh ke kursi belakang.
"Bangun, Kang..." ujarnya sambil membuka sabuk pengaman car seat. "Hari ini kita sekolah."
Zeemar yang baru delapan bulan mengangkat wajahnya pelan. Mata bulatnya berkedip beberapa kali sebelum senyum kecil muncul begitu melihat papapnya. Bayi itu belum benar-benar mengerti arti sekolah, tetapi ia mengenali nada suara yang penuh antusias itu. Kedua tangannya langsung terulur minta digendong.
"Nggak deg-degan ya?" tanya Zara sambil merapikan kerah overall abu-abu kotak-kotak yang dikenakan putra mereka. Di bawahnya, kaus putih berlengan pendek membuat kulit montok Zeemar terlihat semakin bersih. Rambutnya baru dipotong beberapa hari lalu sehingga poni pendeknya jatuh rapi di atas alis.
"Yang deg-degan Mamam sama Papap, ya, Kang," gumam Raga terkekeh sambil mengangkat tubuh anaknya ke pelukan lalu mencuri ciuman di sela leher Zeemar yang antara ada dan tiada itu. "Pemeran utamanya mah santai banget kayaknya ini."
Zara menggeleng geli melihat dua laki-laki kesayangannya itu. Tangannya otomatis mengambil tisu basah dari diaper bag, mengusap sedikit sisa biskuit bayi di sudut bibir Zeemar. Kebiasaan seorang dokter anak memang sulit dilepaskan bahkan ketika pasiennya adalah anak sendiri. Semua harus rapi. Semua harus nyaman.
Mereka berjalan memasuki sekolah berdampingan. Seorang fasilitator menyambut dengan senyum hangat, memperkenalkan diri, lalu mempersilakan para orang tua duduk melingkar di ruang infant yang seluruh lantainya dilapisi matras lembut.
Beberapa bayi seusia Zeemar sudah lebih dulu merangkak ke sana kemari. Ada yang sibuk menggoyang bola rotan, ada yang memandangi pantulan dirinya di cermin rendah, ada pula yang masih betah menempel di gendongan ibunya.
"Hari ini tema kelas kita The Builder," jelas fasilitator dengan suara tenang. "Di usia delapan bulan, bayi belum diajak bermain peran. Fokusnya tetap eksplorasi sensorik. Jadi mereka akan mengenal tekstur, suhu, sebab-akibat, sekaligus melatih koordinasi tangan, mata, dan keseimbangan tubuh. Orang tua cukup mendampingi dan mengamati. Kita usahakan tidak terlalu banyak mengarahkan."
Zara mengangguk pelan. Ia memang sudah membaca kurikulum kelas Parent & Child ini beberapa hari sebelumnya. Di usia Zeemar yang baru delapan bulan, kelas Montessori bukan tentang belajar membaca atau berhitung. Justru sebaliknya. Anak diberi ruang untuk mengeksplorasi lingkungan yang aman, sementara orang tua belajar menahan diri agar tidak terus-menerus mengintervensi. Mengamati lebih banyak, membantu secukupnya.
Raga menyandarkan punggung ke dinding sambil memangku Zeemar yang sejak tadi memutar kepala ke segala arah. Mata kecil itu sibuk memperhatikan setiap benda yang terlihat baru baginya.
"Persis mandor proyek baru inspeksi site yang mau serah terima," bisik Raga di telinga istrinya.
Zara menahan tawa. "Belum juga mulai."
"Insting anak arsitek."
"Kamu tuh..."
Fasilitator kemudian membawa keluar sebuah nampan logam besar. Di dalamnya terbentang cairan hitam mengilap dengan kekentalan menyerupai aspal basah, padahal sebenarnya hanya campuran tepung terigu, air hangat, sedikit minyak sayur, dan pewarna makanan hitam yang aman apabila tanpa sengaja tersentuh kulit bayi. Di sekelilingnya sudah disiapkan miniatur alat berat, rol jalan, batu bata kayu, ember kecil, serta beberapa balok berbentuk bata. Beberapa orang tua langsung tersenyum, Raga malah terkekeh pelan.
"Wah..." gumamnya sambil melirik Zara. "Ini baru satu frekuensi sama Papap."
Zara menyenggol lengannya pelan. "Jangan mulai bangga dulu, yang main bukan kamu loh, Sayang."
"Kalau boleh sih aku juga mau," cengir Raga berbalas senyum Zara.
Zeemar yang sudah tidak sabar mulai menggeliat turun dari gendongan. Kedua telapak tangannya bergerak-gerak ke arah nampan hitam yang berkilau terkena cahaya lampu.
"Silakan dibiarkan bereksplorasi," ujar fasilitator lembut. "Kalau mereka memilih menyentuh, merangkak, atau sekadar mengamati, semuanya sama-sama proses belajar."
Raga menurunkan Zeemar perlahan ke atas alas bermain. Tidak ada yang menduga, beberapa menit kemudian, kelas pertama Kakang kecil itu akan berubah menjadi tontonan yang membuat satu ruangan menahan tawa.
Zeemar tidak membutuhkan waktu lama untuk memutuskan. Bayi delapan bulan itu hanya diam beberapa detik, mengamati nampan logam besar di depannya dengan kepala sedikit dimiringkan. Mata bulatnya bergerak mengikuti permukaan cairan hitam yang berkilau diterpa cahaya lampu. Tangan mungilnya beberapa kali membuka dan mengepal, seolah sedang menimbang apakah benda asing itu aman disentuh atau tidak.
Bayi lain di sekelilingnya masih banyak yang memilih bertahan di pangkuan orang tua masing-masing. Ada yang hanya mengulurkan satu jari lalu buru-buru menariknya kembali karena kaget dengan teksturnya. Zeemar justru melakukan hal yang selalu membuat Raga dan Zara geleng-geleng kepala sejak anak itu mulai bisa berguling. Ia maju.
"Kakang..." panggil Zara refleks, tubuhnya sedikit condong ke depan.
Raga pelan-pelan menahan lengan istrinya.
"Jangan dulu," bisiknya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari anak mereka. "Lihat dulu dia maunya apa."
Zara menoleh sebentar. Sebagai dokter anak, naluri pertamanya memang selalu ingin memastikan semuanya aman. Sebagai ibu, naluri itu berlipat ganda. Namun ia tahu, justru inilah salah satu alasan mereka datang ke kelas Montessori. Belajar memberi ruang. Belajar percaya.
Zeemar meletakkan kedua telapak tangannya ke permukaan "aspal" buatan itu.
Plup.
Cairan hitam yang lembut langsung mengalah di bawah tekanan tangannya. Bayi kecil itu berkedip. Bukan takut. Lebih tepatnya... heran. Jemarinya bergerak membuka-tutup, merasakan adonan tepung yang dingin, licin, sedikit lengket, lalu mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi ke depan wajah sendiri. Hitam. Ia memandangi tangannya cukup lama. Kemudian, seulas senyum kecil muncul.
"Nah ...," gumam Raga bangga. "Suka dia."
Bukannya berhenti, Zeemar malah menepuk-nepuk lagi permukaannya. Bunyi plok... plok... plok... memenuhi sudut ruangan. Cairan hitam memercik kecil ke lengan dan pahanya. Semakin banyak. Semakin seru. Raga tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ada sesuatu yang membuat dadanya hangat melihat anaknya begitu penasaran pada dunia.
Tiba-tiba ia teringat satu malam berbulan-bulan lalu. Malam ketika Zara masih hamil besar. Kala itu ia menempelkan telapak tangan di perut istrinya sambil berbisik pelan kepada bayi yang belum pernah mereka lihat wajahnya selain di layar USG.
"Kakang... nanti kalau sudah lahir, Papap nggak minta kamu jadi anak paling pintar, Papap juga nggak minta kamu jadi paling hebat, Papap cuma minta satu sama Allah supaya kamu jadi anak yang berani," bisik Raga seraya mengusap lembut perut Zara.
"Berani apa dulu nih?" selidik Zara.
"Berani mencoba, berani jatuh, berani bangun lagi. Berani percaya kesempatan itu masih selalu ada bahkan saat kamu rasanya belum bisa lihat hal-hal indah selain masalah."
Ternyata doa itu sedang tumbuh di depan matanya. Zeemar tidak pernah banyak ragu. Selama delapan bulan terakhir, setiap kemampuan baru selalu ia sambut dengan rasa ingin tahu yang luar biasa. Berguling sampai kepalanya beberapa kali membentur matras. Belajar duduk sambil oleng ke kanan dan kiri. Merangkak mengejar apa pun yang menarik perhatiannya tanpa peduli berapa kali ia harus berhenti untuk menyeimbangkan tubuh. Hari ini pun sama. Ia penasaran. Dan rasa penasaran itu lebih besar daripada rasa takut.
"Kamu lihat nggak?" bisik Raga lirih.
Zara mengangguk pelan tanpa melepaskan pandangan dari Zeemar.
"Iya."
"Dia nggak pernah mikir dulu."
Zara terkekeh,"Itu bukan pujian, Sayang."
"Buat aku iya."
Belum selesai mereka berbicara, Zeemar mulai bergerak lebih jauh. Kedua lutut montoknya merangkak masuk ke tengah nampan logam. Celana abu-abunya langsung berubah belang-belang hitam. Ia masih antusias menepuk-nepuk permukaan adonan sambil sesekali mengambil miniatur truk kuning yang mengapung di dekatnya.
"Lihat, Kang," ujar Raga sambil menunjuk pelan. "Ada excavator."
Zeemar menoleh cepat ke arah suara papapnya, lalu kembali melihat mainan itu. Tangannya mengambil kendaraan kecil tersebut, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu... tanpa aba-aba tubuhnya condong terlalu jauh ke depan.
"Eh..."
Belum sempat siapa pun bereaksi.
Bruk.
Seluruh wajah mungil itu mendarat lebih dulu ke dalam cairan hitam. Ruangan mendadak hening satu detik. Lalu Zeemar mengangkat kepala perlahan. Aspal tepung itu menempel di pipi, hidung, dagu, bahkan alisnya. Ujung hidungnya berubah hitam seluruhnya. Ada sedikit adonan menggantung di dagunya, sementara matanya yang bulat berkedip cepat karena masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Ia tidak menangis. Tidak merengek. Tidak kaget. Ia hanya duduk diam dengan ekspresi bingung yang begitu polos. Seolah sedang bertanya kepada seluruh dunia,"Tadi... aku kenapa?"
Raga yang sejak tadi berusaha menjadi ayah suportif langsung kehilangan pertahanannya. Tawa besarnya pecah memenuhi ruangan.
"HAHAHA... Ya Allah, Kakang!"
Ia sampai menepuk lutut sendiri sambil membungkuk, tawanya tidak bisa dihentikan.
"Sayang..." katanya terbata-bata kepada Zara. "Liat itu Kakang cemong ..."
Zara yang awalnya ikut panik memastikan Zeemar baik-baik saja akhirnya mengembuskan napas lega ketika melihat putranya hanya berkedip-kedip kebingungan. Namun, begitu mendengar tawa suaminya yang semakin menjadi-jadi, ia spontan menepuk bahu Raga cukup keras.
"Astaga, kamu!" tegurnya sambil ikut menahan senyum. "Jangan diketawain."
"Aku... hahaha..."
"Raga!"
"Maaf..." katanya, meski tawanya belum juga reda. "Aku tuh kasihan..."
"Boong."
"...iya, lucu."
Zara memelototinya,"Tega banget ngebully anak sendiri."
Raga mengusap sudut matanya yang sampai berair karena tertawa terlalu keras. Ia lalu berjongkok di depan Zeemar yang masih duduk mematung dengan wajah hitam legam.
"Duh..." katanya sambil menggigit bibir menahan tawa berikutnya. "Kakang..."
Zeemar memandang papapnya lama. Masih bingung. Masih diam. Lalu mengangkat kedua tangannya yang juga sudah hitam pekat, seolah meminta penjelasan. Bukannya menjelaskan, Raga malah geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil.
"Ya ampun... ini mah..." Ia menoleh ke arah Zara dengan wajah penuh kemenangan. "Bakpao keguling arang."
Zara langsung melotot.
"Raga!"
"Bulat..."