bab 2x Keris dan Cincin
Keris itu punya kenangan beda pada tiap anak. Kalau aku, keris itu sudah pasti bukan jodohku. Lain dengan kakakku yang nomor enam. Satmuno. Sat artinya enam. Dia anak yang nomor enam.
Dia polisi. Jadi aku dan dia menjadi dua anak yang tidak berprofesi guru di antara delapan bersaudara. Kami memang keluarga dengan profesi guru. Sejak dari zaman Belanda, kakek menjadi guru. Bapak beserta empat saudaranya juga guru. Nah di keluargaku, hanya kami berdua yang bukan guru. Belanda memperlakukan guru lebih tinggi derajatnya. Konon, bapak dan saudara saudaranya terbiasa makan dengan telur setiap harinya. Menu itu istimewa di zaman itu. Kakek juga punya sepeda onthel untuk kerja.
Singkat kata, kami keluarga kaya sedari dulu. Tanah kami luas dan terbesar sekampung.
Kemerdekaan bukan hal yang menarik di keluarga kami. Bahkan ada yang bosan dengan kemerdekaan. Yang jelas, kami justru tidak melihat sebagai keuntungan material. Tanah makin lama makin berkurang untuk dijual itu semua terjadi sebagai buntut kakekku sakit kaki yang parah. Kakek penderita gangren. Kakinya membusuk akibat sering makan enak. Kakek meninggal dalam keadaan kaki tinggal satu dan sekian banyak utang.
Dengan latar keluarga seperti itu, kami dibesarkan. Kalau mau dikatakan kaya, kami keberatan. Kalau dianggap miskin, kami tidak terima.
Kembali soal keris, pernah Satmuno tidak bisa tidur gara-gara genteng seperti terkena air hujan. Padahal tidak hujan rumah.