Mata Cahaya

Khairul Nizam
Chapter #1

Akhir Dari Kehidupan

Pagi itu cerah. Sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui jendela kamar seorang pria bernama Akagami Rio.

Usianya 28 tahun. Tingginya 164 cm. Rambutnya hitam legam, sedikit acak-acakan. Dan satu hal yang tak pernah berubah sejak ia lahir ke dunia: ia belum pernah sekalipun pacaran.

Alias... jomblo abadi.


“Hoaam... udah pagi ya," gumam Rio dengan suara serak sambil menguap panjang.

“Pergi mandi dulu, ah…”


Di depan cermin, ia menatap bayangannya sendiri. Wajah lesu. Kulit kusam. Sorot mata lelah seperti sudah menyerah pada dunia.

Ia mengelus pipinya, lalu mencubitnya pelan.


“Ahh… muka udah kayak datuk-datuk…” desahnya getir.

“Pantes aja… aku masih jomblo sampai sekarang… hadeh.”


Ia cepat-cepat mengenakan pakaian kerjanya. Kemeja kusut, celana panjang hitam, dan sepatu favoritnya, yang sudah mulai terkelupas tapi tetap setia menemaninya.

Rumah terasa sunyi. Tak ada suara. Tak ada orang lain. Hanya keheningan.


“Aku berangkat!” teriaknya, meskipun tidak ada siapa-siapa yang mendengar.


Ia tersenyum. Pahit.

“Haha… padahal aku tinggal sendiri juga…”


Di kantor, langkah Rio lesu. Kantong mata menghitam jelas di wajahnya. Setiap gerakannya seperti orang yang sedang kehilangan semangat hidup.

Namun, seorang sahabat menepuk bahunya keras-keras.


"OI… RIO!" seru Mika, sahabat sekaligus rekan kerja yang paling bawel.

"Lo baik-baik aja nggak sih? Dari tadi muka lo kayak zombie, bro."


Rio menoleh, wajahnya kusut seperti kertas yang terlanjur diremas.


“Bijir… lo kira gue mau mati dalam keadaan jomblo?!” jawabnya ketus, setengah bercanda, setengah... benar-benar lelah.


Mika tertawa keras, menepuk-nepuk punggung Rio.


“Haha! Ya bener juga! Tapi… kenapa nggak nyari cewek dulu, hah?”


Rio menghela napas panjang, lalu memandang meja kerjanya yang penuh tumpukan dokumen tak berujung.


“Cewek ya… kerjaan aja belum selesai… gimana mau nyelesain hati orang lain...”


Malam mulai menjelang.

Lampu-lampu kantor padam satu per satu, meninggalkan cahaya redup dari monitor Rio yang masih menyala.

Satu per satu rekan kerja pamit pulang.


“Rio… kami pulang duluan ya!” seru salah satu rekan.


“Oh… ya,” balas Rio tanpa menoleh, jari-jarinya masih sibuk menari di atas keyboard.


Tak lama kemudian, Mika menghampirinya lagi, kali ini sambil mengangkat tangan dan meregangkan tubuhnya.


“Bro, lo belum selesai juga?”


Lihat selengkapnya