Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #1

H-3 | Keluarga yang Dipilih

Dari matamatabiru@site.com

Kepada reinamoewarni@site.com

Subjek: Keluarga yang Dipilih

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Kepada Reina,

Menurutmu, bagaimana sebuah keluarga terbentuk?

Dulu, aku kira kita hanya membutuhkan sepasang manusia, seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai ayah dan ibu, kemudian pasangan itu harus memiliki sedikitnya satu orang anak. Dan voila, jadilah satu keluarga yang lengkap.

Namun, aturan itu berubah untukku. Aku kehilangan Ibu dan Ayah saat umurku lima tahun. Tentu saja, aku bukan lagi bagian dari kelompok yang disebut keluarga. Aku menjadi sebatang kara. Sampai akhirnya seorang anak laki-laki datang ke hidupku, menawarkan hubungan persaudaraan.

Aku tidak mengenal kakakku sejak lahir. Aku menemukannya di panti asuhan. Aku merasa kami tidak bisa menjadi keluarga. Kakak tidak memiliki kesamaan denganku. Kami sepenuhnya berbeda. Kulitku kecoklatan, sedangkan tubuhnya putih pucat. Rambutku hitam, sementara Kakak punya surai kuning keemasan di kepalanya. Yang paling mencolok dari Kakak adalah matanya. Kakak memiliki mata biru muda yang jernih, berbeda jauh dengan manik hitam legam yang aku punya.

Oleh karena itu, saat Kakak bilang ingin menjadikan aku keluarganya, aku tidak lantas sepakat. Aku bilang padanya bahwa kami adalah orang asing bagi satu sama lain. Aku tidak mengenal Kakak, Kakak juga tidak mengenalku. Orang asing tidak akan pernah menjadi keluargamu. Tetapi, dia balik bertanya padaku, "Memangnya apa yang menjadikan keluarga itu keluarga?"

Setelah kupikirkan, pertanyaannya cukup sulit dijawab.

Jika aku mengatakan keluarga membutuhkan hubungan darah, maka Rifat yang sekamar dengan kami, tidak akan dikirim ke sini oleh nenek kandungnya sendiri. Jika aku mengatakan keluarga membutuhkan dua orang tua yang lengkap, Sonia pasti sudah diambil ibunya kembali karena ibunya telah menikah lagi, tapi dia masih tetap di sini, bersama kami.

Lalu, Kakak berkata, "Keluarga adalah mereka yang mau menerimamu".

Maka, setelah aku menerimanya sebagai kakakku, sejak saat itulah, kami menganggap satu sama lain sebagai keluarga. Ternyata aku bisa memilih sendiri keluargaku. Dan, memilih Kakak sebagai keluargaku merupakan keputusan terbaik yang pernah aku buat. Karena di masa mendatang, Kakak menjadi tumpuan bagi kehidupanku.

Selama tinggal di panti asuhan, kami dan anak-anak lain menjalani hidup yang begitu sulit akibat Ibu Maya, pengurus panti yang sering kami sebut Bibi Taring karena dia punya satu gigi taring yang begitu panjang, saking panjangnya gigi itu keluar dari bibirnya. Bibi Taring adalah penjaga panti yang kejam. Kami tidak pernah diurus dengan baik olehnya. Tidak diberi pendidikan, pakaian, bahkan makanan yang cukup.

Lihat selengkapnya