Aku meninggalkan kantor lebih awal. Lita dan Bu Sukma membiarkanku pulang duluan karena mereka kasihan padaku. Namun, aku tidak bisa langsung pulang. Saat aku berjalan ke depan kantor, aku disambut oleh awan kelabu yang menurunkan rintik-rintik air. Aku mengumpati diri sendiri karena tidak membawa payung. Aku memerlukan benda itu karena pulang menaiki kereta, dan harus berjalan sepuluh menit ke stasiun.
Ketika aku dilema apa aku harus memesan ojek saja, ponselku tiba-tiba berdering. Nama Gara muncul di layar. "Halo?" sambutku.
"Sepertinya aku akan menjadi pahlawanmu hari ini. Lihat ke arah pukul sepuluh." Aku menuruti ucapan Gara, dan menemukan mobil kijang biru tua favoritnya terparkir di seberang sana, di depan kafe.
Dia berdiri di samping mobil sambil membawa payung dengan gaya khasnya: kaus merchandise film yang dilapisi jaket cokelat, celana kargo sebawah lutut, sepatu kets, dan rambut panjang sebahu yang diikat rapi. Dari penampilannya, aku yakin tidak ada yang menyangka pria berpenampilan sederhana itu ternyata adalah pemilik Naratama Production.
Untung penampilan Gara tidak jomplang denganku. Aku sudah tampak kacau karena cepol rambut yang berantakan, kemeja kusut, dan ransel besar yang membuatku terlihat seperti kura-kura. Siapa juga yang akan percaya kalau perempuan sepertiku akan jadi menantu keluarga Naratama? Akupun tidak.
Aku berseru senang dalam hati ketika Gara menyeberang ke tempatku. Namun, kemudian aku sadar kalau aku masih di depan kantor. Merasa waspada jika masih ada orang di sekitar sini. Apakah Mata-mata Biru akan mengikutiku sejauh ini?
"Sejak kapan kau menungguku? Bukannya kau tidak tau aku lembur hari ini?" cecarku usai Gara tiba.
"Yah, aku memang harus menunggu lama. Hampir saja aku meneleponmu karena takut kau mungkin sudah pulang. Untung saja aku melihat lampu masih menyala di jendela kantormu di atas sana."
"Kau pasti lelah. Terima kasih sudah menjemputku, tapi kau tau aku tidak suka dijemput di sini."
Gara merangkulku, membawaku masuk dalam teduhan payung. "Sudah, tidak usah sok tertutup. Kau tidak tau ya, kalau aku lebih suka dipamerkan? Jika bukan karenamu, aku sudah berteriak di seberang sana, "Reina, sayangku! Kakanda datang menjemputmu!", daripada meneleponmu diam-diam seperti bos kartel."
Aku memelotot, lalu memukul pelan bahu Gara. "Jaga omonganmu!" Meskipun begitu, tingkah konyol Gara berhasil meloloskan senyumanku.
Kami menyebrang bersama hantaman hujan yang makin deras, Gara membukakan pintu dan menungguku masuk. Saat aku menarik sabuk pengaman, tanpa aku sangka dia tiba-tiba menyodorkan sesuatu yang berbau sangat harum. Rupanya dia menyembunyikan buket bunga di kursi belakang.
"Astaga, apa-apaan ini?" Aku menerima buket itu sambil menutupi wajahku yang memerah.
"Ini bunga permintaan maaf. Maaf, karena aku tidak mengajakmu jalan-jalan beberapa hari belakangan. Kau pasti merasa suntuk."
Aku bahkan tidak sadar. Surel Mata-mata Biru itu benar-benar telah mengacaukan isi kepalaku. "Seharusnya aku juga minta maaf. Aku jarang menghubungimu karena sibuk."
"Tidak masalah. Yang penting sekarang kita punya waktu bersama." Gara mengusap puncak kepalaku. "Aku mau mengajakmu makan malam. Apa boleh?"
"Boleh! Sebenarnya aku agak lapar." Sei sapi pemberian Bu Sukma tadi tidak aku habiskan, jadi perutku masih terasa kosong. Makanan tidak pernah terasa enak jika aku merasa tidak aman.
Tempat yang Gara tuju adalah restoran spesialis mie langganan kami. Kami sering datang ke sini untuk makan malam. Gara menyukai rasa soto mie milik mereka, aku juga, tetapi yang paling aku suka dari tempat ini adalah pemandangan di lantai tiga. Di sana mereka punya sisi dinding berlapis kaca transparan yang menampilkan pemandangan kota.
Saat aku dan Gara tiba di lantai tiga usai memesan soto mie, rasa lelahku lenyap begitu saja setelah melihat pemandangan khas itu lagi, untuk kesekian kalinya. Hidup bertahun-tahun di tengah hiruk-pikuk kota kadang membuatku bersyukur setiap kali menemukan ketenangan di tengah-tengahnya. Akupun menunggu makanan kami datang sembari memotret beberapa foto pemandangan kota di malam hari yang tampak basah karena hujan memantulkan cahaya melalui lampu-lampu bangunan, jalan, kendaraan, serta genangan air.
Namun, kesenanganku tidak bertahan lama, karena Gara bertanya, "Liburan kita ke rumah keluargaku lusa nanti, jadi kan?"
Aku mematikan kamera ponsel. Tanganku membeku. "Y-ya."
Untung saja Gara tidak menyadari tingkah anehku. "Bagaimana dengan jadwal kegiatan yang ingin kau lakukan dengan keluargaku? Kau sudah memutuskan mau melakukan apa saja?"
Ah, aku baru ingat juga soal itu. Seminggu lalu aku bilang pada Gara kalau aku ingin melakukan berbagai kegiatan dengan keluarganya supaya bisa mengenal mereka lebih dekat. Namun, aku masih belum menyelesaikannya, padahal kami akan pergi dua hari lagi.
"Aku sudah tau ingin main golf bersama Kak Dipa."