Dari matamatabiru@site.com
kepada reinamoewarni@site.com
Subjek: Kronologi
Kepada Reina,
Sangat wajar jika kau tidak percaya pada pesan yang aku kirimkan. Aku bahkan tidak punya bukti jelas mengenai peristiwa itu. Karena jika bukti itu ada, keluarga Naratama sudah pasti tidak bisa berkeliaran bebas sekarang.
Karena terlalu fokus pada cerita Kakak, aku juga tidak menyelipkan fakta lain. Tunanganmu, Algara, tidak terlibat dalam kasus ini. Setidaknya, begitulah yang tertulis di informasi yang sudah aku kumpulkan. Dia tidak ada di malam kakakku menghilang. Kau mungkin sudah tau kalau dia sekolah di asrama dan terpisah lama dari keluarganya, sehingga Gara mungkin tidak mengetahui sama sekali apa yang terjadi, makanya kau tidak pernah mendengar soal kasus ini darinya.
Dalam pesan ini, aku akan menguraikan semua yang terjadi di malam Kakak hilang, agar kau bisa lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi, hingga akhirnya aku yakin bahwa keluarga Naratama, memang benar, terlibat dalam kasus menghilangnya kakakku dan mungkin salah satu dari mereka telah membunuhnya. Peristiwa ini terjadi pada penghujung tahun 2011. Saat itu umurku 11 tahun, dan Kakak 13 tahun, dia sepantaran denganmu dan Gara.
Cerita ini akan sangat panjang, aku harap kau meluangkan cukup waktu supaya tidak ada detail yang kau lewatkan dalam cerita ini. Berikut rentetan peristiwa yang dimulai pada tanggal 28 Desember 2011.
28 Desember 2011
Aku demam tinggi pada malam itu. Bibi Taring hanya melemparkan obat dan menyuruhku meminumnya. Namun, Kakak tau bahwa aku juga membutuhkan makanan yang cukup untuk bisa cepat sembuh. Seperti yang sebelumnya sudah aku jelaskan, Bibi Taring orang yang kejam, dia tidak pernah memberi kami makanan yang pantas.
Sebuah ide terbersit. Kakak bilang dia akan mencoba menyusuri hutan, berharap bisa menemukan buah untuk aku makan. Aku tidak suka dengan ide itu. Hutan di malam hari begitu menyeramkan. Kakak tetap bersikeras pergi karena takut kondisiku semakin parah. Malam itu, diam-diam Kakak kabur dari panti asuhan. Dia berhasil membawa kembali buah-buahan.
Tapi, sejak malam itu, tingkah Kakak berubah aneh. Dia banyak melamun, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
29 Desember 2011
Malam berikutnya, dalam tidurku, aku terbangun setelah merasakan pergerakan di samping tempat tidurku. Dengan mata setengah terpejam, aku melihat Kakak berjinjit keluar dari kamar kami.
Tapi aku tidak berani menyusul Kakak, sehingga aku hanya menunggunya. Cukup lama hingga dia kembali dan tidur di sebelahku.
30 Desember 2011
Keesokan paginya, aku menanyakan alasan Kakak menyelinap keluar dari panti kemarin. Kemudian Kakak menjelaskan bahwa dia sebenarnya sudah menemukan rumah neneknya di tengah hutan. Aku sontak terkejut, aku kira selama ini cerita Kakak tentang neneknya yang kaya raya hanya karangan belaka.
Saat itulah, Kakak mengatakan bahwa ia ingin mencoba menyusup ke dalam rumah itu. Kakak masih percaya jika keluarga pencuri yang kini menempati rumah neneknya, masih menyimpan harta milik neneknya. Kakak ingin mengambil kembali apa yang menjadi haknya sejak awal.
Tentu saja, aku melarang Kakak. Menyusup ke rumah yang sudah diambil oleh para pencuri itu berbahaya. Apalagi yang Kakak lawan adalah satu keluarga. Namun, sepertinya dendam dan rasa haus akan kebebasan telah menyerap rasa takut Kakak. Dia tetap pergi.
Malam itu, aku melihat Kakak untuk terakhir kalinya, setelah ia menitipkan sebuah pesan, “Jika aku tidak kembali sampai besok pagi, kemungkinan besar mereka sudah menangkapku. Jadi, tolong cari aku”.
31 Desember 2011
Kakak tidak kembali keesokan harinya.
Sehari setelah Kakak pergi, aku memberanikan diri melapor pada Bibi Taring. Respon wanita itu sangat keras. Ia berteriak penuh amarah, "Dasar anak-anak menyusahkan! Biarkan saja anak itu pergi! Memangnya dia pikir bisa hidup setelah kabur dari sini?! Dia akan kelaparan dan mati! Jangan harap aku akan mencarinya!"
Sikap Bibi Taring adalah penghambat terbesar dalam penemuan Kakak. Aku menyesali rasa takutku saat menghadapinya hari itu.
1 Januari 2011
Bibi Taring memang tidak pernah panik jika ada anak yang kabur. Sebelumnya, sudah ada tiga sampai empat anak panti yang melarikan diri. Sehingga, sehari setelah aku melapor kalau Kakak hilang, bukannya mencari Kakak, wanita bejat itu malah pergi berfoya-foya ke Ibu Kota S.
Namun, aku sudah berjanji pada Kakak, untuk menemukannya. Sebenarnya aku sempat berpikir untuk menyusuri hutan, tapi aku memang pengecut saat itu, karena tubuh yang lemah dan rasa takut, aku hanya mampu menyelinap ke kamar Bibi Taring, untuk mengambil telepon. Di situ, aku berhasil menghubungi nomor polisi yang aku temukan di buku telepon milik Bibi Taring.
Setelah teleponku tersambung, aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada polisi di seberang sana. Tanganku gemetaran memegangi telepon sambil menangis ketakutan. Aku membayangkan nasib buruk yang mungkin menimpa Kakak.
Di sore hari, kala Bibi Taring baru saja kembali, dua orang polisi mendatangi panti asuhan. Bibi Taring lantas memasang wajah penuh senyuman palsu.