Sama seperti Mata-mata Biru, aku tau rasanya kehilangan saudara. Tapi, sepertinya aku tidak merasa sesedih itu, ketika Ranti pergi. Trauma justru lebih banyak membayangiku.
Ranti adalah anak yang selalu disayangi orang tuaku. Saat masih kecil, Ranti menjadi model anak, itu karena dia memiliki wajah yang sangat cantik. Pekerjaan Ranti membantu perekonomian keluarga kami. Kami hanya keluarga kelas menengah ke bawah. Ayahku bekerja sebagai supir travel antar kota yang penghasilannya tak menentu. Sehingga, kadang-kadang kami masih kesulitan memenuhi kebutuhan.
Suatu hari di pertengahan tahun 2013, ketika ibuku sakit, dan ayahku masih punya pekerjaan di luar kota, Ranri mendapat tawaran pemotretan untuk iklan pakaian. Saat itu umurku 15 tahun, sementara Ranti 13 tahun. Ibu memintaku menemani Ranti, bersama manajernya. Ranti menjadi anak cerewet setiap kali ada pemotretan, ia harus ditemani saat berpakaian, disuapi saat makan, bahkan sepatunya harus dipasangkan. Aku tau dia menjadi begitu karena dia kelelahan.
Namun, ada masanya aku juga merasa lelah. Aku merasa lelah ketika keberadaanku dalam keluarga menjadi semu. Aku lelah harus mengurusi Ranti seolah-olah aku terlahir hanya menjadi pembantunya. Lalu, ketika pekerjaan Ranti selesai, hanya dia yang dipuji oleh orang tua kami.
Sehingga hari itu, aku meninggalkan Ranti. Ranti marah karena aku bilang ingin pergi membeli es krim. Entah kenapa saat itu aku merasa energiku sangat terkuras ketika menemani Ranti. Aku hanya ingin menenangkan diri di luar.
Aku berjalan sangat jauh hanya untuk membeli sepotong es krim. Perasaanku menjadi sedikit ringan. Tapi, di perjalanan pulang, dari kejauhan aku mendapati ada asap kelabu yang membumbung tinggi. Butuh waktu untuk memahami apa yang terjadi, sebelum aku menyadari bahwa asap itu berasal dari lokasi pemotretan Ranti.
Es krim yang ada di tanganku jatuh, tatkala aku berlari mengejar bumbungan asap itu. Saat aku tiba, studio itu sudah dipenuhi nyala api yang berwarna merah terang. Melawan beberapa pria dewasa yang tengah menyiramkan air dengan putus asa. Teriakan orang-orang yang bersahut-sahutan memekakkan telingaku.
Sadar kalau adikku masih ada di dalam studio, instingku mendorong tubuhku untuk melompat ke dalam kobaran api, tapi orang-orang menahanku. Hari itu, aku hanya bisa tersungkur tak berdaya, menatap api yang menelan Ranti.
Peristiwa itu mengubah keluarga kami untuk selamanya. Ayah marah pada Ibu karena menyetujui pemotretan itu meski tau aku tidak bisa menjaga Ranti. Sementara Ibu marah pada Ayah karena selalu pergi dan tidak bisa mendapatkan cukup uang sehingga kami harus bergantung pada Ranti.
Lalu, bagaimana denganku? Mereka memang tidak menyalahkan aku, tapi mereka selalu berdebat di depanku, aku berduka untuk Ranti, ketika orang tua kami sibuk menyalahkan satu sama lain. Dan lama-lama, rasa bersalah itu menular padaku.
Aku mulai berpikir bahwa jika aku tidak meninggalkan Ranti, mungkin aku bisa membantunya kabur dari sana. Jika aku cukup berani dan melawan orang-orang yang menahanku, mungkin aku bisa melompat ke dalam kobaran api dan menyelamatkan Ranti. Mungkin seharusnya aku yang mati, bukan Ranti.