Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #21

H+2 | Dilarang Masuk

Tik. Tik. Tik.

Jarum jam panjang terus bergeser konstan, yang sedikit lebih panjang sering berpindah, dan yang paling pendek hanya bergerak kadang-kadang. Lima menit lagi, tengah malam sampai.

Untuk waktu yang lama, aku hanya diam menatap jam dinding di tengah kegelapan kamar. Suara jangkrik terdengar sangat samar di luar sana. Aku berusaha menutup mata untuk tidur kembali, tapi selalu gagal.

Pikiranku masih terusik oleh kejadian tadi siang. Aku penasaran dengan alasan kenapa lemari di dapur depan bisa terbuka begitu saja. Tante Mutia bahkan terlihat panik karena itu.

Ditambah, ketika aku masuk ke bangunan depan, ada suara gemerincing dari dapur itu. Kalau kuingat-ingat lagi, aku pernah mendengar suara itu di hari pertana aku tiba di sini.

"Argh!" Aku mengacak-acak rambut. Kepalaku pening karena terus memikirkan semua itu.

Muak karena tak kunjung tertidur, kusibak selimut dan melangkah keluar dari kamar. Cahaya rembulan yang menyinari taman bunga di depan kamar menyambutku. Aku duduk bersila di teras tengah, menyandarkan bahu ke dinding, berusaha menghirup wewangian bunga yang menyeruak dari taman bunga yang mungkin bisa membuat kantukku kembali. 

Di sebelah kananku, di balik pintu kaca, bangunan depan rumah tampak gelap. Gelap sekali, sama sekali tidak ada cahaya di sana, sama seperti hari-hari sebelumnya, kecuali satu. Ada garis cahaya kekuningan menyelip di kamar mandi yang ada di sebelah dapur depan. Seingatku, kamar mandi itu tidak digunakan, kenapa pintunya bisa terbuka?

Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku melihat sekelebat bayangan hitam berlalu di antara celah itu. Mataku terbelalak, aku lantas bangkit. Kudekati pintu kaca dan menggesernya. Angin dingin dari bangunan depan menerpa wajahku. 

Lihat selengkapnya