Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #5

H-1 | Memupuk Keraguan

Sabtu, 22 Agustus 2026

Titik-titik air dari rambutku jatuh ke lantai kamar mandi, menimbulkan gema di ruang lembab ini. Aku masih belum beranjak usai keramas. Karena pikiranku kini berada di tempat lain. 

Dalam perjalanan pulang sehabis bekerja, di kereta, satu jam lalu, kudapati surel baru dari Mata-mata Biru. Surel itu berisi kronologi lengkap bagaimana kakak Mata-mata Biru bisa hilang hingga proses penyelidikan oleh polisi, polisi yang kemudian menjadi ayah angkat bagi Mata-mata Biru. 

Setelah membaca surel itu, aku benci mengetahui ada rasa lega dalam diriku ketika Mata-mata Biru mengatakan Gara tidak tahu mengenai perbuatan keluarganya. Karena itu berarti, setidaknya mulai ada setitik keraguan dalam diriku. 

Cerita Mata-mata Biru memang terasa begitu nyata seolah dia tidak mengada-ngada. Apalagi salinan surat penggeledahan di rumah keluarga Naratama yang dia kirimkan. Di kop surat itu, terlihat jelas data instansi kepolisian di Kota S beserta alamat dan logonya. 

Soal rumah Indis itu, aku tidak tahu kalau keluarga Gara selama ini tinggal di rumah bergaya Belanda. Setidaknya belum. Gara belum pernah bercerita soal rumah itu. Mungkin baginya tidak penting membicarakan detail bangunan rumahnya.

Tapi, aku mulai melihat benang merahnya sekarang. Anak bermata biru, yang leluhurnya berasal di benua lain, dan neneknya memiliki rumah tua Indis yang identik dengan orang-orang Belanda. Apakah mungkin kakak Mata-mata Biru adalah keturunan keluarga Belanda yang pernah menetap di Kota S pada masa penjajahan?

Mata-mata Biru mengatakan bahwa kakaknya mendatangi rumah keluarga Naratama untuk mengambil kembali harta keluarganya yang ‘tertinggal’ di rumah itu. Apakah keluarga Naratama memang sudah mengambil rumah kakak Mata-mata Biru beserta harta keluarganya? 

Tidak mungkin. Gara bilang kakeknya, Ardas Naratama lah yang membangun bisnis keluarga mereka. Kekayaan keluarga Naratama berasal dari warisannya, bukan dari yang lain. Jadi, untuk apa mereka mengambil rumah orang lain? Kalaupun mereka memang mencuri, kenapa mereka tidak pernah dituntut? Apakah sebenarnya ada masalah antara keluarga kakak Mata-mata Biru dan keluarga Naratama terkait kepemilikan rumah itu?

Seusai melilit rambut ku yang basah ke dalam handuk, aku meraih tablet yang tergeletak di atas meja. Aku bukan orang yang bisa menahan rasa penasaran. Jika ada sedikit saja yang tidak beres dalam pikiranku, maka aku harus mengenyahkannya. Apalagi ini soal keluarga tunanganku, orang-orang yang akan menjadi keluargaku juga.

Sulit untuk percaya akan ada hari di mana aku membuka situs gosip.int. Situs yang terkenal sebagai tempat pertukaran rumor-rumor paling liar tentang orang-orang populer. Aku tau ini salah, meragukan keluarga calon suamiku diam-diam. Tapi, aku hanya ingin mencari kebenaran, kebenaran yang bisa membantah argumen Mata-mata Biru.

“Benar, aku bukannya percaya pada Mata-mata Biru. Aku hanya ingin memastikan. Aku butuh pendapat orang lain soal keluarga Gara.” Aku meyakinkan diriku.

Di kolom pencarian, aku mengetik ‘keluarga Naratama'. Tanpa kusangka, muncul puluhan entri berisi unggahan dan komentar. Itu sebenarnya wajar, bagaimanapun mereka adalah keluarga yang cukup dikenal segelintir orang.

Lihat selengkapnya