Minggu, 23 Agustus 2026
Gara:
Lima menit lagi sampai
Siap-siap
Saat keluar dari kamar, dan melewati dapur, aku melihat ayam goreng bawang untuk Ibu yang aku beli untuk sarapan tadi masih terbungkus rapi. Aku berjinjit dan melangkah ke kamar Ibu. Pintu kamarnya terbuka. Di dalam sana gelap, tapi aku masih bisa melihat sosok Ibu yang sedang menonton sinetron di televisi di kamarnya sambil memakan roti. Aku ingin menegur Ibu, tapi itu berarti episode pertengkaran lainnya.
Aku beralih mengambil kertas tempel dan pena di atas kulkas, mencoba menuliskan sesuatu.
Bu, aku dan Gara pergi. Masih banyak bahan makanan di kulkas, itu cukup untuk seminggu jadi makanlah yang teratur. Jika mau belanja, ada uang di laci dapur. Nanti aku hubungi lagi.
Maafkan aku.
-Reina
Aku meninggalkan kertas tempel itu di pintu kulkas.
Matahari sudah mulai bersinar terik saat aku tiba di halaman. Aku dan Gara sengaja berangkat sebelum tengah hari, karena perjalanan ke Kota S akan menempuh waktu yang cukup lama dari kota ini, lebih dari 5 jam. Kami akan melalui tol selama hampir tiga jam, dan singgah di rest area untuk makan siang. Kemudian akan memakan waktu dua jam menuju wilayah perbukitan yang berada di ujung kota S. Seharusnya, kami sudah sampai sebelum malam.
Gara menunggu di depan perumahan, atas arahanku. Dia orang yang sangat sopan. Jika dia menjemputku di depan rumah, Gara akan masuk demi menyapa Ibu. Aku tidak suka itu, bukan karena aku ingin hubungan Gara dan Ibu menjadi renggang, hanya saja, terakhir kali, saat Gara datang bersama keluarganya untuk menyampaikan lamaran—sebuah kabar bahagia—Ibu malah membahas Ranti usai mengucapkan selamat pada kami.
Omongan Ibu hanya berputar di: “Ranti pasti juga akan segera menikah atau setidaknya memiliki kekasih, jika dia masih hidup”, “Aku harap Ranti bisa mengenalmu, dia anak yang sangat ceria”, “Ranti pasti senang jika tau orang sepertimu yang akan menikahi kakaknya”. Ibu secara tidak langsung juga memaksa Gara dan keluarganya untuk merasa bersalah. Ayah yang juga hadir hari itu bahkan tidak menghentikan Ibu.
Ketika mereka pulang, senyuman penuh kebahagiaan yang keluarga Gara bawa, memudar.
Aku tidak mau itu terjadi lagi. Bukan karena aku tidak ingin Gara dan keluarganga peduli pada Ranti, tapi mereka tidak sepantasnya ikut merasa bersalah ketika mereka bahkan tidak mengenal adikku. Cukup aku yang menanggung kepedihan ini, keluarga baruku jangan.
Mobil kijang tua berwarna biru malam itu terparkir di dekat pos sekuriti. Gara berdiri menyandar di sisi kiri mobil. Sambil celingak-celinguk. Wajah kebingungan Gara berganti menjadi cengiran saat dia melihatku. Gara melambaikan tangan ke udara, sebelum berlari kecil mendekatiku.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Gara. Ia mengambil alih tas besar yang aku bawa.
“Ya.” Aku memaksakan senyum.
“Reina, nada bicaramu berkata tidak. Bilang saja, apa ada masalah di rumah, sampai aku harus menjemputmu di sini seperti pacar yang kau sembunyikan dari orang tuamu?”
Aku akhirnya bisa tersenyum lebar. Salah satu hal yang sangat khas dari Gara waktu dia merasa kesal atau khawatir adalah menyelipkan sedikit kalimat konyol supaya tidak terdengar kasar olehku.
“Mari kita bicarakan di mobil,” putusku akhirnya.
Gara membuka bagasi dan memasukkan tasku. Ketika aku membuka pintu mobil, aku menemukan selimut, beberapa makanan ringan favoritku, dan obat anti mabuk perjalanan sudah tertata rapi di kursi penumpang. Rasanya perhatian Gara ini sudah cukup membuatku melupakan masalah yang menimpaku sejak tadi malam.