Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #20

H+2 | Tak Pernah Ganjil

Enam bola-bola biterbalen terakhir sudah terangkat. Aku mengumpulkan bola-bola itu dalam sebuah piring besar. Permukaan biterbalen yang mengkilap akibat minyak, tidak bisa menahanku untuk tidak mengambil satu dan memakannya. Rasa makanan bulat itu benar-benar penuh. Garing di luar, lembut di dalam. Bumbu yang diracik Tante Mutia juga sangat pas. 

Kakiku melangkah riang meninggalkan dapur, tidak sabar memamerkan biterbalen pertamaku pada Gara.

Ketika sampai di bangunan depan, aku menyempatkan diri mencari Tante Mutia di dapur depan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada empat cangkir antik berwarna putih yang dihiasi ornamen klasik berwarna emas yang sudah terisi kopi, itu pas dengan jumlah kami, satu untukku, satu untuk Gara, satu untuk Om Arya, satu untuk Tante Mutia, dan satu botol jus jambu yang sepertinya untuk Kak Alia. Saat aku ingin mengeluarkan suara untuk memanggil Tante Mutia, bunyi air terdengar dari kamar mandi di sebelah kamar Kak Alia.

Oh, mungkin Tante Mutia sedang buang air, pikirku.  

Aku ingin membawa kopi-kopi itu sekalian, tetapi sepiring besar biterbalen telah memenuhi peganganku. Jadi kuputuskan membawa biterbalen keluar lebih dulu. Kulirik dapur depan sekali lagi sebelum beranjak pergi, ada empat cangkir di atas pantri. Ada empat. Tidak kurang, tidak lebih.

“Hore! Ada biterbalen!” Seruan Kak Alia menyambutku di depan lapangan. “Oi, makanan sudah datang!”

Jauh di depan sana, Om Arya dan Gara yang masih sibuk bermain golf, menoleh. Gara mendongak. “Duluan saja!” balasnya. Sedangkan Om Arya melambaikan tangan ke udara, sambil tersenyum tipis. 

“Silakan dimakan, Kak.” Aku sodorkan nampan ke depan Kak Alia.

Kak Alia tersenyum. “Sini, kita makan sama-sama!” 

“Masih ada kopi yang tertinggal di dapur depan, Kak. Aku mau ambil dulu.”

Manik mata Kak Alia melebar. “Dapur depan?”

“Iya, aku pergi dulu, ya, sebentar,” pamitku.

“Eh, tapi–” selaan Kak Alia menahan langkahku.

“Kenapa, Kak?” Aku menoleh.

Kak Alia menggeleng-geleng cepat. “Tidak ada apa-apa! Ya, tidak ada. Pergilah!” 

Aku mengangkat kedua bahu. Heran, tapi begitulah Kak Alia, kadang-kadang sulit memahaminya. Aku lantas kembali berjalan ke arah rumah. 

Baru saja aku melewati ruang tamu, terdengar suara gemerincing di suatu tempa. Sontak, aku menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa di sini. Suara itu muncul lagi, kini disertai suara berderit, seperti…, pintu yang terbuka? Tetapi, semua pintu kamar di bangunan ini juga tertutup.

Aku menatap ke arah dapur depan, mungkin Tante Mutia sudah keluar dari toilet dan ada di sana. Aku melangkah lebih cepat. Namun, saat aku tiba di depan dapur, tidak ada siapapun. Hanya saja, pintu lemari di pojok yang terbuka lebar menarik perhatianku. Seingatku, pintu lemari ini tertutup tadi. Entahlah, aku tidak memperhatikannya. Mungkin suara berderit tadi berasal dari pintu lemari ini. Lalu, darimana asal suara gemerincing yang sebelumnya aku dengar?

Lihat selengkapnya