Rabu, 26 Agustus 2026
Aku hancur lebur. Diriku berputar-putar, kemudian menyatu dalam air. Pantulanku terlihat menyeramkan di tutup kaca mesin cuci. Menekuri benda persegi yang kini mengeluarkan derakan bercampur suara percikan air itu, membuatku semakin mengantuk. Padahal jam di layar ponselku baru menunjukkan pukul empat sore. Kutegakkan badan dan memaksa kakiku melangkah, mondar mandir, di ruang cuci untuk menahan kuap.
Semua ini akibat aku kurang tidur. Aku kurang tidur akibat surel baru dari Mata-mata Biru yang aku temukan setelah kejadian tadi malam. Aku masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana aku menemukan bayangan hitam di kamar mandi yang tak terpakai itu. Tepat setelah Om Arya menyuruhku kembali ke kamar, aku mendapati surel baru dari Mata-mata Biru. Surel yang menjelaskan alibi Om Arya di malam kakak Mata-mata Biru menghilang.
Senapan, aku tidak tau Om Arya punya koleksi senapan. Tapi, itu tidak mengherankan. Gara sudah sering bercerita mengenai sifat Om Arya yang pemberani. Beliau suka menjelajah alam, wajar beliau akrab dengan senapan. Yang tidak wajar adalah, apakah beliau berani menggunakan senapan itu untuk membunuh seorang anak?
Om Arya adalah ayah yang tegas, bisa terlihat jelas dari cara beliau bersikap. Namun, Om Arya tetaplah ayah yang lemah lembut. Tak pernah sekalipun aku melihat beliau bersikap kasar selama ini. Beliau orang yang ramah, selalu jadi yang pertama dalam urusan memuji, dan selalu menjadi orang pertama yang memastikan orang lain merasa nyaman.
Mesin cuci berhenti berputar, menandakan pakaianku siap untuk dikeluarkan. Aku memindahkan pakaian yang masih basah itu ke keranjang, dan memasukkannya kembali ke mesin pengering khusus. Gara bilang ini mesin yang bisa langsung mengeringkan pakaian, masuk akal kenapa di rumah ini tidak ada tempat menjemur pakaian.
Aku bersandar ke dinding lagi. Menatap wajahku yang berputar-putar lagi di penutup kaca mesin pengering. Terus berputar, dan berputar. Pandanganku memburam. Aku melihat pantulan wajahku melebur, menjadi cairan hitam lengket yang menggumpal, membentuk sosok hitam tanpa wajah. Sosok itu keluar dari penutup mesin pengering, dan berteriak ke depan wajahku. Ia mengeluarkan dengungan melengking yang memekakkan pendengaranku.
“Reina?”
“Argh!” Aku membuka mata. Menepis tangan seseorang yang menyentuh bahuku.
“Rei, kau kenapa?” Rupanya itu hanya Gara.
Kutengok ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang, kanan, dan kiri, tidak ada apa-apa, sosok itu hilang.
“Apa kau baik-baik saja? Kau barusan tidur berdiri di sini,” imbuh Gara.
Aku menghela napas. Untung saja yang tadi hanya mimpi buruk. “Maaf, aku mengantuk. Kemarin aku kurang tidur.”
Gara meraih pipiku, tangannya lalu bergerak ke anak rambutku yang mencuat dari ikatan, merapikannya. “Kita mau mendaki bukit ‘kan nanti? Kau yakin bisa melakukannya kalau mengantuk begini?”
“Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya. Nanti aku minum kopi.”