Dalam keluargaku, sejak aku lahir, aku menjalani peran selayaknya anak bungsu keluarga kaya. Semua keinginanku diwujudkan, aku dibiarkan bebas tanpa dituntut untuk meneruskan bisnis keluarga, dan kasih sayang dicurahkan untukku. Awalnya tangki cinta yang penuh itu membuatku menjadi anak yang penuh dengan kelembutan. Aku sangat menyayangi keluargaku, bangga, percaya pada mereka.
Namun, semuanya berubah saat aku mulai beranjak remaja. Kala itu Ayah mulai sering mengajakku dan Kak Dipa pergi ke pertemuan bisnis. Berbeda dengan Kak Dipa yang selalu berani tampil, aku yang kikuk dan tidak tertarik dengan bisnis golf lebih suka berada di tempat-tempat yang jauh dari orang asing.
Ayah dan Kak Dipa akan berdiri di tengah-tengah keramaian, membuat orang-orang memusatkan perhatian pada mereka, sedangkan aku akan mencari celah kosong di pojok dan memilih menjadi penonton. Di sudut-sudut ruang pesta itulah, aku mulai mendengar banyak rumor-rumor yang ditujukan pada keluargaku. Rumor yang paling sering aku dengar adalah rumor soal asal-usul kekayaan keluargaku yang janggal.
Yah, jujur saja, aku juga tidak tahu asal-usul keluarga kami. Kakek dan Nenek tidak pernah membicarakan orang tua kandung mereka. Setiap kali membahas soal darimana semua kekayaan itu berasal, Kakek akan membicarakan ayah angkatnya, seorang Belanda, bernama belakang Van den Bosch itu. Kau sudah pernah mendengarkan ceritaku soal ini, Reina. Kakek mendapatkan warisan dari aristokrat itu karena dia anak angkat laki-laki yang disayangi.
Tapi, setelah itu, tidak ada. Tidak ada penjelasan soal orang bernama Van den Bosch ini dan apakah dia tidak memiliki anak yang seharusnya mewarisi kekayaannya. Jadi, cerita rumpang itu menyisakan rasa penasaran dalam diriku. Aku mulai meragukan keluargaku sendiri, sejak mendengar langsung rumor-rumor mengerikan itu.
Banyak yang percaya keluargaku memelihara iblis. Segelintir dari mereka yakin kakekku menemukan harta karun seperti kisah 1001 malam. Dan, sampailah aku pada rumor paling liar sekaligus paling masuk akal, ada yang percaya keluargaku mencuri. Justru rumor seperti itulah yang membuatku berang.