Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #25

H+3 | Tanda Tanya

Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ketika Gara mematikan lampu dan memutar acara Jalan-jalan Malam di televisinya. Itu adalah acara yang diproduksi oleh salah satu adik tingkat Gara semasa kuliah. Gara mengajakku menonton episode perdana acara itu. 

Aku bukan penikmat tayangan horor. Bukan karena aku penakut, melainkan karena aku benci dikejutkan oleh penampakan atau semacamnya. Bagiku hal-hal yang mengejutkan tidak termasuk dalam horror. Horror adalah sesuatu yang membuat kita takut, bahkan tanpa harus mengejutkan kita. 

Acara Jalan-jalan Malam ini akan berakhir tengah malam, memang jam strategis untuk menciptakan suasana mencekam. Semua anggota keluarga Gara yang lain sudah tidur, jadi kami hanya menonton berdua. Aku dan Gara duduk di sofa ruang keluarga, dengan camilan kemasan yang menemani kami.

“Mereka akan pergi ke bangunan tua terbengkalai.” Mereka yang dimaksud Gara adalah para pembawa acara Jalan-jalan Horor. Dia sudah kena bocoran semua episode yang telah diedit dari adik tingkatnya.

Di layar televisi, di tengah kegelapan yang menyelimuti mereka, empat pembawa acara itu sedang berdiskusi mengenai sejarah bangunan yang akan mereka datangi. Soal umur bangunan itu, identitas pemiliknya, orang-orang yang tinggal di sekitar sana, kemunculan penampakan.

Ya, penampakan. Itu mengingatkanku pada apa yang terjadi belakangan ini di rumah keluarga Gara. Apa semua itu mengarah ke makhluk astral? Sosok bayangan hitam di jendela kamar Kak Dipa, sosok yang mengambil cangkir kopi buatan Tante Mutia, sosok yang ada di dalam toilet tak terpakai malam semalam, dan hari ini, sosok yang diberi Tante Mutia makan. Kemungkinan besar semua itu adalah satu sosok yang sama.

Apakah dia iblis yang keluarga Naratama pelihara? Seperti yang orang-orang Gosip.int pernah bicarakan tentang mereka. Apakah mungkin sebenarnya kakak Mata-mata Biru dibunuh oleh sosok iblis itu sebagai tumbal, dan bukan keluarga Naratama yang melakukannya?

Itu mustahil buatku yang tidak mempercayai keberadaan hantu, iblis, atau makhluk mistik lainnya. Jika ada hantu pun, aku sudah berdoa agar Ranti menghantuiku supaya aku bisa meminta maaf padanya. Hanya saja, aku kesulitan menemukan alasan logis kenapa semua hal janggal itu bisa terjadi.

“Gara.”

“Hm?” Gara tidak menoleh, masih fokus ke layar televisi, dimana para pembawa acara Jalan-jalan Horror memulai napak tilas mereka ke dalam bangunan.

Lihat selengkapnya