Saat berjalan menuju lapangan golf, aku terus menatap Kak Dipa yang tengah tersenyum lebar sambil mengobrol dengan Gara di depan sana. Aku tidak menyangka akan menjadi begitu peduli pada ekspresinya. Pria itu mungkin tampak seperti lelaki ceria. Tidak ada yang aneh pada Kak Dipa. Namun, surel Mata-mata Biru, membuatku tidak bisa lagi memandangnya dengan cara yang sama.
Kami menghentikan langkah di dekat pendopo, dan meletakkan ransel golf kami. Cuma Kak Alia yang tidak membawa tas golf dan memakai seragam. Kak Alia tidak mau bermain, tapi ingin ikut-ikutan saja, makanya dia hanya berganti pakaian dengan gaun bermotif floral lainnya. Kali ini warna putih.
“Baik, Reina. Aku akan menjelaskan mengenai peraturan golf dan lapangan golf lebih dulu padamu.” Kak Dipa berkacak pinggang seraya membusungkan dada. “Sederhananya, golf adalah permainan yang mengharuskan kita untuk memukul bola sampai ke dalam lubang, dengan pukulan sesedikit mungkin.”
Kak Dipa kemudian mengangkat tangan kirinya ke arah lapangan golf yang terhampar di depan kami. “Lapangan golf punya beberapa bagian. Pertama tee box, lahan berbentuk kotak di depan kita ini….”
Bukannya mendengarkan, aku malah sibuk dengan pertanyaan liar yang berputar di benakku. Dalam wajah Kak Dipa itu, mungkinkah tersimpan wajah seorang pembunuh, seperti dugaan Mata-mata Biru?
“...kemudian ada bunker, rintangan berupa ceruk yang permukaannya dilapisi pasir. Wilayah green, yang punya rumput pendek, tempat lubang berada….”
Kak Dipa orang yang ceria, bagaimana mungkin dia bisa membunuh seseorang? Aku tau dia agak narsistik, jahil, dan punya selera humor yang buruk. Tetapi, apa itu alasan yang cukup untuk mendakwanya sebagai pembunuh?
“...Reina? Apa kau mendengarkan?”
Pertanyaan Kak Dipa itu menarik kembali kesadaranku ke dunia nyata. Tempat aku menjadi pusat perhatian. Kak Dipa, Kak Alia, dan Gara, mereka semua menatapku.
“Kenapa kau diam saja menatapku? Apa wajah tampanku membuatmu salah fokus?” Kak Dipa tersenyum miring dan menyugar rambutnya.
Aku melipat bibir. Menahan diriku untuk tidak berdecih. Andai Kak Dipa tau aku baru saja memikirkan tentang kemungkinan dia membunuh seseorang.
Gara tiba-tiba merangkulku mendekat padanya. “Dasar narsis! Reina hanya mengantuk karena penjelasanmu membosankan. Cepat selesaikan!”
“Aku juga hanya bercanda, Bontot,” kata Kak Dipa sinis. “Sampai mana kita tadi?” tanyanya kebingungan.
“Permainan!” semprot Kak Alia.
“Ya, permainan.” Kak Dipa menjentikkan jari. “Permainan golf biasanya dibatasi dalam beberapa par, Reina. Par ini adalah patokan jumlah pukulan dari tee box sampai ke hole. Umumnya golf dilakukan dalam 9-18 hole. Istilah hole di sini seperti jumlah finish yang harus kita selesaikan dalam satu permainan. Hole adalah lubang di bagian lapangan yang ditandai dengan bendera, seperti di sana.” Kak Dipa mengangkat telunjuknya ke arah sebuah bendera merah yang letaknya cukup jauh dari tempat kami berdiri. “Tapi, karena lapangan pribadi kami termasuk lapangan mini—hanya punya 1 hole—maka kita akan memakainya 3 kali dan hanya bermain 3 hole dalam 5 par. Itu permainan kecil, tapi tidak apa-apa, lain kali kau bisa mencoba di lapangan besar kami.”
Gara menambahkan, “Yah, intinya kau hanya perlu mengikuti kami. Tidak perlu terlalu memusingkan teknik bermain, lambat laun kau pasti akan paham, yang penting kau menyelesaikan permainan sampai selesai.” Kemudian ia mendekatkan mulut ke telingaku untuk berbisik, “Meskipun ini permainan golf kecil-kecilan, Kak Dipa tetap sangat ketat, jangan pernah meninggalkan lapangan kalau kau belum menyelesaikan permainan,” peringatnya.
“Kita mulai memukul di tee box.” Kak Dipa berjalan ke area depan lapangan yang berbentuk persegi. “Nama benda ini tee.” Kak Dipa mengangkat sebuah benda kecil berbentuk seperti paku. “Kau menancapkannya di tee box, menaruh bola di atas tee tadi, dan….” Kak Dipa menaruh bola di atas tee yang sudah tertancap itu, bangkit dan menggenggam erat stik golfnya. Kakinya terbuka sedikit, tubuhnya agak membungkuk menyejajarkan kepala stik dengan bola. Kemudian dia mengayunkan stiknya ke belakang, dan memukul bola.
Pukulan Kak Dipa mengeluarkan desau nyaring. Seperti suara pisau yang terhunus. Aku kontan melangkah mundur, meski pukulan itu tidak ditujukan ke arahku.
Bola golf itu melambung tinggi, aku menyipitkan mata mencari keberadaan bola itu di atas sana, dimana langit bersinar terang. Benda itu terlihat seperti titik putih saat ia jatuh jauh dari tempat kami berdiri.
“Wah!” Gara melongo di tempatnya.