Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #45

H+6 | Mata Biru yang Berpendar dalam Kegelapan

Awalnya, aku menjalani hari-hari yang menyenangkan dari tanggal 26 sampai 29. Sampai akhirnya, sesuatu terjadi pada malam tanggal 30, Nenek jatuh di kamar mandi. Aku dan Kak Alia yang sedang ada di kamarnya, membantu Nenek berdiri dan mengambilkan kursi rodanya.

Setelah kami membantu Nenek, aku keluar dan berjalan ke dapur untuk memberitahu Ibu bahwa Nenek jatuh. Tetapi, sesuatu menahanku. Aku melihat jendela dapur depan yang selalu tertutup, mendadak terbuka. Bukan hanya itu, lemari yang biasanya terkunci di sana, tidak tertutup rapat. Itu aneh, karena orang tuaku bahkan tidak pernah mengizinkan siapapun menyentuh lemari itu.

Penasaran, aku akhirnya mendekati lemari itu dan membukanya. Tidak ada apa-apa di sana, lemari itu kosong. Sampai aku menyadari bahwa papan dasar lemari itu mencuat, seolah-olah bisa dibuka. Aku menarik celah di papan itu, rupanya ada batu yang diselipkan di selanya.

Aku lantas membuka papan dasar itu lebih lebar lagi. Dan, betapa terkejutnya aku ketika menemukan ada sebuah tangga di bawah sana. Penasaran, aku turun ke bawah. Di dalam sana, lorong yang dipenuhi cahaya temaram dari lentera yang tergantung, menyambutku. Aku melangkah menyusuri lorong itu perlahan, waspada dengan apa yang ada di ujung sana.

Di ujung lorong, aku melihat ada banyak brankas berjejer dan tersusun rapi. Di sanalah aku menemukannya. Seorang anak, laki-laki, sedang membuka salah satu brankas berisi berbatang-batang emas.

Aku meneriakinya, “Pencuri!”

Anak itu tersentak. Ia menoleh ke arahku, dan kudapati mata birunya. Mata biru yang berpendar dalam kegelapan itu seperti sebuah teror bagiku. Karena mata itu mengingatkanku pada rumor-rumor yang selama ini diarahkan pada keluarga kami.

Untuk sesaat, dia hanya terdiam menatapku sembari mengeratkan kepalan tangannya yang menggenggam dua batang emas. Lalu, sepertinya dia akhirnya sadar bahwa dia sedang tersudut. Dia berteriak, “Aku bukan pencuri, kalian lah yang pencuri, kalian mencuri harta nenekku! Aku hanya ingin mengambilnya kembali!”

Ketakutanku tepat. Dia memang cucu perempuan Belanda yang hartanya dicuri oleh kakekku. Setelah dipikir-pikir, seharusnya aku tidak perlu menghalanginya, kan?

Benar, kataku pada diriku sendiri saat itu. Anak itu hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Lagipula, dibandingkan dengan semua yang kami miliki, dua batang emas bukan sesuatu yang berarti. Hidup kami tidak akan melarat walau anak itu mengambil beberapa batang emas saja.

Tapi, ini bukan tentang nilai, ini tentang perasaan memiliki. Bagiku, emas itu adalah milikku, milik keluargaku. Membiarkannya mengambil emas itu berarti aku mengakui bahwa keluargaku memang seorang pencuri. Jika aku membiarkannya sekali ini, maka dia mungkin akan datang lagi, lagi, dan lagi, sampai akhirnya kami akan kehilangan semuanya.

Pada akhirnya, aku memilih untuk memburu anak itu. Dia berhasil mengelak dan berlari ke arah lorong. Aku menarik bajunya saat kami sampai di dapur. Dia reflek menepis, dan mendorongku ke arah pantri. Lalu, mataku menangkap keberadaan pisau roti di sana. Aku meraih pisau itu, dan melompat ke arah anak itu ketika dia sedang berusaha kabur lagi.

Karena situasinya begitu kacau, aku tidak banyak mengingat apa yang terjadi selama beberapa detik setelah aku menusuk anak itu. Yang kuingat hanyalah bagaimana keluargaku berbondong-bondong mendatangi dapur setelah mendengar keributan.

Ayah, Ibu, Nenek, Kak Dipa, dan Kak Alia mengelilingi kami, sedangkan anak itu masih gamang dalam kungkunganku. Dia masih hidup, tapi wajahnya sudah pucat, tubuhnya berkeringat, matanya menatap kosong. Dia kehabisan banyak darah.

Akupun menyadari kesalahanku. Aku sangat panik. Hingga rasanya kepalaku ingin pecah. Aku meminta Ayah dan Ibu untuk membantu menyelamatkan anak itu sambil menekan lukanya yang terus mengucurkan darah. Ayah, Ibu, Kak Alia, dan Kak Dipa bergeming karena syok. Tapi, Nenek yang duduk di kursi roda karena pinggangnya sakit usai jatuh, justru mendapat kekuatan untuk berdiri dan menarik tanganku. Tangan nenek sangat dingin. Membuatku menjadi lebih ketakutan lagi ketika melihat tatapan tajamnya. Dia marah besar.

Kemudian keluargaku akhirnya bereaksi. Kak Dipa menutupi wajahnya. Kak Alia menangis. Lalu, Ibu memelukku. Dan, Ayah memegangi kepalanya.

Hanya Nenek yang sanggup menarik selendangnya, melemparkannya ke wajah anak bermata biru itu, sambil berkata, “Singkirkan anak ini dari hadapanku, tatapannya menjijikkan.”

Ayah menyeret mayat itu ke ruang bawah tanah. Ibu membereskan semua bukti; pisau roti, bajuku dan lantai yang berdarah, juga barang-barang yang dibawa mayat itu.

Lihat selengkapnya