Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #28

H+4 | Kartu Keberuntungan

Aroma cendana menyambutku di dalam kamar Kak Alia. Kamar itu punya interior yang sudah tua seperti bangunan luar. Namun, jika perhatikan lebih lama, kamar ini terasa mewah sekaligus indah. Ada ranjang yang terbuat dari kayu yang dicat warna putih dengan sentuhan ukiran klasik yang mendetail, seolah dipahat manual, bukan hasil mesin. Dinding kamarnya dilapisi wallpaper bermotif bunga. Ada banyak benda-benda kecil lainnya yang juga bergaya klasik seperti tatakan lilin berbahan perunggu, cermin berbentuk lingkaran yang dibingkai dengan perunggu, kursi klasik dari kayu, dan masih banyak lagi.

Kak Alia mengarahkanku untuk duduk lebih dulu di salah satu kursi yang mengapit sebuah meja kecil di dekat jendela. Ketika duduk di situ, aku baru menyadari ada lemari besar di sudut kamar ini. Awalnya aku berpikir itu hanya lemari pakaian pada umumnya. Tetapi, setelah di amati seksama, aku merasa lemari itu familiar. 

Lemari kayu itu berukuran besar, kakinya berupa papan panjang, dan berwarna cokelat. Itu persis seperti lemari di dapur. 

Aku melirik Kak Alia yang sedang mengambil sesuatu, di lemari lainnya. Ya, dia punya lemari lain. Berbeda dengan lemari besar yang berwarna kayu alami–coklat bercorak garis-garis kayu–itu, lemari yang Kak Alia buka adalah lemari kayu berwarna putih yang punya banyak pintu. Tampak jauh lebih modern. Aku penasaran apakah lemari cokelat itu terpakai, atau itu juga terbengkalai seperti yang di dapur depan?

“Kau punya dua lemari ya, Kak?” Aku bersandar santai pada kursi, berusaha terlihat tidak terlalu tertarik, meski sekarang aku sangat penasaran.

Kak Alia melirik lemari tua itu, dan aku mendapatinya hampir memelotot. Benar, ada sesuatu yang janggal. Berbeda dengan anggota keluarga Naratama yang lain, Kak Alia sangat mudah dibaca. 

“Iya.”

Sayang sekali. Respon Kak Alia tidak menghilangkan rasa penasaranku. “Lemari itu mirip lemari di dapur lama,” kataku lagi.

Kak Alia meremas kartu-kartu di tangannya. “Benar. Itu lemari-lemari warisan Kakek yang sudah ada sejak rumah ini dibangun, kami tidak pernah memindahkannya, untuk menghormati Kakek.”

“Apa semua kamar di depan memilikinya juga?”

“Aku rasa begitu, kami semua memilikinya.” Kak Alia berdehem. “Lihat, ini koleksi kartu baruku! Aku memesannya bulan lalu!” Dia memamerkan kartu-kartu di tangannya. Dia tidak mahir mengalihkan topik pembicaraan. 

Aku tetap berusaha terlihat tertarik. “Benarkah? Aku merasa sangat terhormat bisa mencoba kartu ini, Kak.”

Kak Alia mendekat dan duduk dihadapanku. Tepat di belakangnya aku masih bisa melihat lemari tua itu. “Tentu saja. Jenis bunganya lebih banyak, jadi kau punya variasi pilihan terbaik.”

“Bagaimana cara mainnya?” 

“Aku akan menaruh set kartu ini, supaya kau akan memilih kartumu! Kau harus menutup mata dan memikirkan keinginan terpendammu. Lalu, kartu ini akan menjawabnya. Gambar bunga yang ada di kartu ini yang nanti akan menunjukkan nasib baik atau buruk yang akan datang kepadamu!” 

Lihat selengkapnya