Aku, Gara, dan keluarganya membangun tenda sebelum waktu makan malam. Ada tiga tenda besar yang didirikan. Masing-masing satu tenda untuk dua orang. Om Arya dan Tante Mutia, Gara dan Kak Dipa, sedangkan aku akan tidur bersama Kak Alia.
Tenda-tenda itu sudah lama mereka miliki. Saat Kak Dipa membantu Gara mengeluarkannya sore ini, tenda-tenda itu berdebu. Untungnya, mereka punya jenis tenda berkualitas yang masih terasa baru meski baru digunakan setelah bertahun-tahun.
“Terakhir kali kami berkemah, mungkin tiga tahun lalu. Itu sudah lama sekali,” kata Gara saat dia menancapkan pasak untuk menyangga tendaku dan Kak Alia.
Gara sangat mahir mendirikan tenda. Melihat Gara telaten menyiapkan perkemahan membuatku merasa rileks. Dia selalu bisa jadi tempat aman buatku, meski aku berada di antara keluarganya yang gemar berbohong ini.
Om Arya menyiapkan api unggun, sementara Kak Dipa mengangkut peralatan kemah lainnya, alat masak dan lampu senter. Tante Mutia sibuk dengan bahan makanan, sementara Kak Alia berlarian mengelilingi kami semua.
Usai tenda didirikan, kami memasak barbeque untuk makan malam. Aku kesulitan mencerna makanan di rumah ini, karena sudah terlanjur dilingkupi keraguan. Bagaimana bisa aku memakan daging yang dimasak oleh para pembohong? Untung saja, Gara berinisiatif membakar daging untukku, jadi aku hanya makan semua daging yang dia berikan.
“Reina, apa kau menikmati waktumu di sini?” Itu pertanyaan dari Kak Dipa. Dia sedang duduk di sebelah Gara, memakan stik sambil bersila.
“Ya. Ini hari-hari yang menyenangkan.” Seharusnya, jika kalian tidak berbohong dan terus menyembunyikan sesuatu.
“Kau harus sering-sering datang ke sini lagi,” imbuh Kak Dipa.
“Tentu saja.” Jika aku bisa keluar dengan selamat besok pagi.
Aku hampir tidak berbicara dengan Tante Mutia dan Om Arya selama makan malam. Mereka hanya menanyakan apa aku membutuhkan sesuatu—pertanyaan formalitas. Kak Alia tidak lagi mau mendekatiku, tapi dia masih sering melirik ke arahku. Keluarga Gara sudah tidak repot-repot bersandiwara.
Ketika api unggun semakin membumbung tinggi, aku meminta Gara dan keluarganya duduk berdekatan dalam satu baris. Aku berencana mengadakan permainan untuk mereka.
“Reina ‘kan penulis kreatif, Bu. Dia punya banyak permainan menyenangkan,” tutur Gara ketika Tante Mutia bertanya kenapa aku ingin memainkan permainan.
“Aku tidak ikut dalam permainan ini, aku hanya akan menjadi pemandu. Jadi, kalian berlima bisa mengikuti instruksi dariku,” ungkapku.
Setelah memastikan mereka duduk berdekatan, aku mengeluarkan lembaran kertas yang dilipat kecil dan membagikannya masing-masing pada mereka.
“Ini permainan ‘pengkhianat’. Aku akan membagikan empat kata yang benar untuk empat orang, dan satu kata yang salah untuk satu orang. Tidak ada yang tau dirinya benar atau salah, kalian hanya bisa menebak berdasarkan jawaban peserta lain. Kalian akan menggunakan satu kata yang mendefinisikan benda tersebut, kalian boleh memainkan trik atau berbohong. Tapi, tugas utama orang-orang yang benar adalah mencari satu orang yang salah. Dan tugas orang yang salah adalah mengecoh mereka yang benar.”
Aku berjalan mundur usai membagikan kertas. “Apa kalian sudah paham?” Kini aku dan Keluarga Naratama berdiri berseberangan dengan api unggun yang memisahkan kami. Sesekali terdengar bunyi kertak dari ranting yang terbakar.
“Permainan pengkhianatan untuk sebuah keluarga terdengar cukup menantang. Kau pintar memilih, Reina,” komentar Kak Dipa. Dia tersenyum miring.
Kak Alia menyembunyikan kertas yang aku berikan padanya. “Awas kalian! Aku akan memperhatikan kalian.” Dia menyipitkan mata penuh curiga saat menatap keluarganya.
“Ini hanya permainan, Kak,” sahut Gara.
“Om harus mengambil kacamata dulu. Om akan makin kesulitan membaca di kegelapan.” Om Arya berjalan ke dalam tenda.
Tante Mutia mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak yakin soal permainan ini, sepertinya cukup sulit.”
“Ibu akan mengerti saat kita mulai. Reina, cepatlah,” pinta Gara.
Setelah melihat Om Arya keluar dari tenda dan memakai kacamatanya, aku membuka buku catatanku untuk mengintip daftar status peserta saat ini. Om Arya, Tante Mutia, Kak Dipa, dan Kak Alia adalah orang yang benar. Sementara Gara, dia akan jadi pengkhianat.
Sebenarnya permainan ini aku tujukan hanya untuk membuat mereka lelah dan bisa tidur lelap malam ini. Namun, mungkin aku bisa bersenang-senang sedikit, setelah menghadapi begitu banyak kebohongan dari mereka dan sebelum aku mengungkap kebohongan itu malam ini.
“Silakan buka kertasnya. Pastikan tidak ada yang mengintip!” titahku.
Lima orang di depanku itu mulai membuka lipatan kertas mereka dan menampilkan ekspresi berbeda-beda. Gara mengintip sesaat, sebelum mengangkat jempol ke arahku. Kak Alia menekuri kertasnya sambil menunduk agar tidak ada yang mengintip. Tante Mutia membuka kertasnya lebar-lebar tanpa susah payah menyembunyikannya. Om Arya membaca sembari berkecumik, mengulang-ulang kata yang tertulis di kertas, mungkin takut lupa. Sementara Kak Dipa hanya mengintip sepersekian detik, tampak percaya diri.
Kata benar pertama yang aku pilih adalah Rumah, dan kata salah yang aku pilih adalah Makam.