“Ueghh!” Gara bersendawa. “Rei, kau makan sedikit sekali tadi. Apa kau tidak lapar?”
Aku menggeleng. “Aku sudah makan banyak makanan ringan sepanjang jalan. Perutku penuh. Bisa-bisa aku muntah nanti.”
Gara menghabiskan sisa kebab yang tidak aku habiskan tadi. Rasa kebab berubah hambar setelah aku membaca surel Mata-mata Biru. R
“Tunggu saja sampai kita tiba di rumahku. Ibuku punya makanan yang bisa membuatmu melupakan rasa kenyang.”
“Ya,” balasku singkat. Percuma saja. Makanan tidak akan pernah terasa enak kala kekhawatiran menyergapku.
Kami melanjutkan perjalanan beberapa menit kemudian. Musik rok alternatif mengguncang seisi mobil, Gara menyalakan daftar putarnya supaya tidak mengantuk. Aku ditawari memakai headphone jika aku ingin tidur. Tetapi, aku tidak bisa tidur. Tidak selama surel Mata-mata Biru itu masih memenuhi pikiranku.
Mata-mata Biru kali ini membahas soal peta rumah keluarga Naratama. Rasanya bulu kudukku meremang saat membaca pesannya tadi. Dia bilang dia membuat peta itu berdasarkan informasi dari ayah angkatnya yang polisi itu saat dia menggeledah rumah keluarga Naratama, entah itu benar atau salah. Yang jelas, ini berbahaya. Walau dia bilang dia tidak akan repot-repot mengikutiku, aku tetap tidak bisa mempercayainya.
Aku membagi tatapan antara ponsel yang tergeletak di pangkuanku dan Gara yang sibuk menyetir di sebelahku. Kami akan segera tiba di Kota S, namun, teror penguntit itu masih membayangiku. Apa aku harus memberitahu Gara?
Tidak. Tidak bisa. Gara tidak akan berpikir dua kali untuk berputar balik, kalau tahu soal Mata-mata Biru. Keluarga Naratama yang sudah mengubah jadwal mereka untuk menyesuaikan rencanaku, akan kecewa. Mereka akan memandangku sebagai menantu yang merepotkan. Memulai konflik sebelum pernikahan dengan keluarga calon suamimu, berarti merusak citramu seumur hidup di mata mereka. Dan, cerita ini akan berakhir menjadi akhir bahagia untuk Mata-mata Biru.
“Persetan!” batinku.
Pilihanku sudah jelas. Aku akan tetap pergi.
…
Perjalanan dua jam di tol, berakhir. Kami tiba di Ibu Kota S lebih dulu. Aku hanya menikmati setengah perjalanan di sana, karena tertidur. Ketika aku bangun, gedung-gedung pencakar langit makin jarang terlihat.