Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #10

Hari-H | Rumah Indis Tua

Rumah keluarga Naratama akhirnya terlihat. Itu adalah rumah bercat putih yang memiliki pelataran setengah segi enam. Ada dua tiang putih yang menyangga atap pelataran, dan lantainya berwarna merah bata. Atapnya yang membentuk prisma lah yang membuatku sadar bahwa rumah ini memang memiliki gaya khas rumah Indis.

Belum, Reina, jangan panik dulu!

Gara menghentikan mobil di garasi yang dibangun terpisah beberapa meter di sisi kanan rumah. Tepat di dekat jeep wrangler abu-abu yang aku duga milik Om Arya, dan sebuah maserati merah yang sepertinya milik Kak Dipa. Gara memutar mobilnya menghadap lapangan golf yang terletak di depan sana. Rumputnya rapi dan berwarna hijau segar. Di depan lapangan ada satu pendopo besar. Sementara di sisi kiri lapangan ada dua unit cart golf terparkir.

Saat kami keluar dari mobil, segerombol orang keluar dari rumah. Mereka keluarga Gara. Om Arya tampak rapi memakai kaos berkerah berwarna biru dan celana krem. Tante Mutia mengenakan gaun polos panjang berwarna cokelat. Kak Dipa memakai kaos hitam dan celana kain putih. Sementara Kak Alia tampak anggun dengan gaun kuning bermotif floral miliknya. Mereka semua tersenyum ke arah kami.

“Reina, apa kabar?” Tante Mutia memelukku saat aku tiba di hadapannya. Tubuhnya yang besar mendekapku. Beliau memang gemuk, namun itu membuat tubuhnya sangat nyaman dipeluk.

“Baik, Tante. Tante gimana? Sehat?”

“Sehat, Sayang.” Tante Mutia mengelus punggungku, lembut.

“Reina! Peluk aku juga!” seruan nyaring itu berasal dari Kak Alia. Dia membuka lebar kedua tangannya, dan mengayun-ayunkannya. Rambut keriting Kak Alia yang tergerai panjang sampai ikut bergoyang.

Senyumku terkembang melihat tingkah lucu Kak Alia. “Iya, Kak!” Lalu, kuberikan dia pelukan, yang dibalas Kak Alia dengan pelukan–sangat–erat.

Gara di sisi lain sibuk menyapa Om Arya dan Kak Dipa.

“Reina, asal kau tau, Gara tidak akan pulang jika bukan karena kau mau ke sini,” lapor Om Arya kepadaku.

“Ayah, kenapa sampai bicara begitu–argh!” Gara tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Kak Dipa sudah melompat untuk memiting lehernya.

“Si bontot ini memang merasa paling sibuk, aku yang sering terbang ke berbagai kota saja bisa pulang setiap minggu, tapi dia tidak bisa!” omel Kak Dipa.

Bontot adalah nama panggilan Gara di keluarganya. Istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa dia anak bungsu yang disayangi. Gara tidak suka dengan panggilan itu, apalagi jika keluarganya menyebutnya begitu saat ada aku.

“Iya! Iya! Reina bahkan lebih memikirkan kami daripada kau!” Kak Alia ikut mengejek Gara.

Gara mendorong Kak Dipa. “Ah, jadi sekarang kalian bahkan mengabaikan aku? Aku yang mengenalkan Reina kepada kalian, dan sekarang kalian membuangku setelah mendapatkan Reina.”

“Sudah! Sudah!” Tante Mutia mengibaskan tangannya. “Jangan mengejek putraku seperti itu. Dia baru sampai dari perjalanan panjang, tapi sudah diajak bertengkar saja. Biarkan dia beristirahat. Gara, bawa Reina ke kamarnya.”

Lihat selengkapnya