Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #15

H+1 | Cenderamata

Matahari sudah berada tepat di tengah langit ketika kami menyelesaikan permainan. Meskipun permainannya sempat kacau, Gara keluar sebagai juara dua. Tentu saja Kak Dipa juara satu, dan aku yang hanya beruntung di awal berada di posisi terakhir. Aku hampir putus asa karena kesulitan memukul bola dari bunker tadi.

“Aku punya sesuatu untukmu, Reina.”

Saat kami baru menaiki cart golf untuk kembali ke rumah, Kak Dipa menahanku. Aku dan Gara menunggunya mengambil sesuatu dari dalam ransel golf.

“Ini untukmu.” Ternyata Kak Dipa menyodorkan sebuah bola golf. Bola golf itu sedikit berbeda. Ada coretan hitam di permukaannya. Seperti tanda tangan?

“Bola golf?” Meski sempat ragu, aku tetap mengambil bola itu, di sebelahku, Gara ikut melongok penasaran.

Kak Dipa berkacak pinggang. “Saat Gara memberitahuku kau ingin bermain golf, aku berpikir ingin memberikanmu sesuatu sebagai cenderamata. Kebetulan sekali, ada final kejuaraan nasional yang sedang diadakan di Naratama Golf Club. Itu bola kemenangan dari juara pertamanya, Alicia Chou. Aku secara pribadi meminta bola itu darinya dan menceritakan soalmu, bahwa aku punya calon adik ipar perempuan yang baru mulai bermain golf. Alicia sangat senang mendengar itu, dia memberikan bola itu dan menandatanganinya untukmu.”

Aku terkesima mendengar penjelasan Kak Dipa. Perasaan hangat menjalar di tubuhku. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal semacam itu untukku. Sebagai seorang direktur, dia pasti bisa menyuruh bawahannya untuk mengambilkan tanda tangan, tetapi, Kak Dipa memilih datang secara pribadi menemui juara nasional itu, hanya untuk meminta tanda untuk adik iparnya, aku.

“Terima kasih, Kak…,” kataku lirih sambil menekuri bola kecil di atas telapak tanganku.

Gara meraih bahu Kak Dipa. “Kau mengalahkanku di golf, dan sekarang kau mau merayu calon istriku, Kak?!” Dia terdengar kasar, tetapi senyuman lebar terukir di wajah Gara.

Kak Dipa tergelak. “Aku unggul 2-1. Kau harus mengejar ketertinggalanmu, Gara.”

Aku menyimpan bola berharga itu ke dalam ransel golf. Lihat, Mata-mata Biru tidak akan bisa mengacaukan hubunganku dengan keluarga Naratama. Aku menyesal telah berpikiran buruk terhadap Kak Dipa. Bagaimana bisa aku berpikir seorang kakak laki-laki yang begitu perhatian sepertinya sanggup membunuh?

“Tapi, Kak, tumben sekali kau cuma dapat ²birdie. Terakhir kali kita main, kau masih bisa dapat ³eagle.”

“Kau terlalu banyak berkomentar untuk seorang anak pemilik lapangan golf yang cuma bisa dapat par Gara. Lihatlah tunanganmu Reina. Amatir seperti dia saja dapat ⁴double bogey di permainan pertamanya.”

“Aku seharusnya bisa dapat par tadi kalau kau cukup adil.”

“Tidak usah banyak mengeluh, Bontot, terima nasibmu.”

Entah kapan persaingan dua saudara ini akan berakhir. Gara dan Kak Dipa malah berdebat terus-menerus hingga tiba di depan pendopo. Aku tidak ikut nimbrung, selain karena aku tidak paham istilah-istilah yang mereka lontarkan, tubuhku juga terasa begitu gerah.

Aku memandang rumah dari kejauhan, berharap kami tiba secepatnya. Kubayangkan diriku menenggak air dingin sesudah tiba nanti. Enaknya.

Namun, sesuatu di balik jendela kamar Kak Dipa membuat langkahku terhenti.

Gorden putih di jendela itu terbuka, menampilkan isi kamar Kak Dipa dalam kegelapan. Tapi, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Ada seseorang yang tengah berdiri di balik jendela itu. Sosok yang sekujur tubuhnya seperti dibalut kain hitam itu kentara, kecuali bagian wajahnya.

Aku sontak berlari kecil dengan sisa tenagaku menyusul Gara dan Kak Dipa yang masih sibuk berdebat dan tak menyadari keberadaan sosok itu. “Gara!” pekikku.

Lihat selengkapnya