Jum'at, 28 Agustus 2026
“Berkemah?” Gara baru saja membongkar beberapa album keluarganya ketika aku mencetuskan ide berkemah.
“Ya. Malam ini juga.” Aku mencuri pandang ke pintu kamar Gara yang terbuka, seolah-olah akan ada orang yang mengintip kami dari sana. Padahal rumah hampir kosong.
Om Arya punya kunjungan bisnis dan baru pulang sore ini. Kak Alia dan Tante Mutia ikut bersamanya untuk sesi terapi Kak Alia bersama psikolog hingga siang nanti. Kak Dipa baru akan pulang kembali nanti sore. Hanya ada aku dan Gara. Kami akan mengumpulkan foto-foto kenangan untuk dipajang di venue pada hari pernikahan. Walau sekarang aku sudah tidak peduli pada rencana ini. Aku malah ingin mempersiapkan rencana lain. Rencana menyusup ke ruang bawah tanah rumah ini.
“Tunggu. Kenapa tiba-tiba kau mau berkemah? Itu tidak ada di rencana kita sebelumnya.” Gara mengerutkan keningnya.
“Ehm-ya, memang. Tapi, aku pikir kita harus melakukan kegiatan menyenangkan bersama keluargamu, secara lengkap, untuk terakhir kali.” Aku merangkul lengan kanan Gara, berusaha merayunya. “Kita tidak tahu kapan kita akan kembali ke sini, Gara. Bukannya Kak Dipa mau kembali ke sini lagi? Itu berarti semua anggota keluargamu akan ada di rumah malam ini. Kita bisa bersenang-senang. Aku ingin kita makan di luar ruangan, menatap api unggun, lalu duduk dan memainkan permainan. Kau sendiri yang pernah bilang padaku kalau kau sering berkemah di belakang rumah ini. Aku juga mau mencobanya!”
Gara terdiam, dia berpikir. Setidaknya dia tidak langsung menolak. Alasanku memang cukup masuk akal. Ide berkemah ini muncul karena aku teringat cerita Gara. Itu cerita yang sudah lama ia bicarakan. Kata Gara, dia suka berkemah waktu kecil di taman belakang rumah ini.
“Itu bukan ide buruk,” gumam Gara. “Kita tanya keluargaku dulu.”
“Kau bilang saja jika itu idemu, mereka pasti mau.”
“Reina, mereka juga pasti menurut jika kau yang menginginkannya.”
Tidak. Kurasa tidak setelah melihat semua yang terjadi. Aku tahu keluarga Gara mulai mencurigaiku. Meski mereka tidak terang-terangan menunjukkannya.
“Kau benar. Tapi, aku merasa tidak enak karena selama seminggu belakangan kita hanya melakukan apa yang aku inginkan. Seharusnya ini giliranmu. Kau bisa merencanakan kemah seperti yang biasanya keluargamu lakukan. Keluargamu pasti akan sangat senang kalau kau yang mengajak mereka.” Aku ingin menggigit lidahku, karena lidah itu lancar sekali membohongi Gara.
“Baiklah.” Dan, karena kejujurannya, Gara sangat mudah menurut.
Aku merasa bersalah pada Gara. Aku bahkan memanfaatkannya untuk memuluskan rencana yang bisa saja mengubah hidup keluarganya.
Melihat Gara yang kini kembali fokus membongkar album-albumnya di sebelahku, membuatku tak sanggup membayangkan bagaimana reaksinya saat aku membuktikan bahwa keluarganya telah melakukan perbuatan kriminal. Apakah Gara akan membenciku?
Namun, aku melakukan semua ini karena aku ingin menyelamatkan hidup seseorang. Lagipula, jika benar sosok bayangan yang aku lihat itu kakak Mata-mata Biru, seharusnya keluarga Naratama tidak akan dihukum berat. Gara tidak akan begitu bersedih.