Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #17

H+2 | Mengheningkan Duka

 Selasa, 25 Agustus 2026

Sisa hari kemarin, aku tidak menemukan keanehan lainnya. Mungkin aku terlalu banyak membaca pesan dari Mata-mata Biru. Aku pernah membaca mengenai sugesti, tentang bagaimana sugesti mengubah cara orang memandang sesuatu.

Mungkin aku sudah tersugesti oleh pesan Mata-mata Biru. Aku melihat hal-hal paling masuk akan menjadi hal-hal yang tidak masuk akal, karena pesan yang Mata-mata Biru kirimkan.

Aku menyadari bahwa saat ini bukanlah saatnya untuk terpengaruh dengan pernyataan Mata-mata Biru. Seharusnya aku memikirkan bagaimana caranya melaporkan perbuatan orang itu. Dia sudah menguntit dan mengambil informasiku dan keluarga Naratama. Bahkan lebih buruk lagi, dia membuat karangan mengerikan tentang Kak Dipa. Aku mempertimbangkan untuk mendiskusikan masalah ini dengan Gara setelah kami pulang dari sini. 

Hal pertama yang aku lakukan setelah mandi pagi ini, adalah berdoa. Berdoa untuk Ranti. Ini adalah hari peringatan kematiannya. 

Rasa bersalah melingkupiku ketika aku mengingat-ingat semua kenangan baik tentang Ranti. Bagaimanapun, dia adalah adikku. Aku menghabiskan masa kecilku bersamanya. Memang ada momen banyak momen perkelahian di antara kami, tetapi aku juga punya banyak kenangan indah bersama Ranti. Rasanya menyedihkan karena aku tidak bisa menyampaikan permintaan maaf langsung kepada Ranti. Aku berharap, jika suatu saat kami bisa bertemu lagi, Ranti setidaknya mau memaafkanku.

Dalam kesenyapan yang menyelimuti kamar, terdengar suara ketukan pelan di pintu. “Rei.” Itu suara Gara.

Aku membukakan pintu untuk Gara dan menemukan dia tengah bersandar di dekat pintu.

“Pagi,” sapaku.

Lihat selengkapnya