Ketika Om Arya, Kak Dipa, Kak Alia, dan Gara keluar menuju lapangan golf usai sarapan, aku dan Tante Mutia mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat biterbalen. Ternyata bahan yang dibutuhkan cukup banyak, kami harus mengumpulkan daging sapi cincang, mentega, tepung, telur, daun parsley, bawang bombai, serta berbagai bumbu pelengkap.
Namun, sepertinya dibanding membantu, yang kulakukan sekarang adalah membatu. Lama aku hanya terpaku di depan pantri, menatap punggung Tante Mutia yang kini sedang mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas. Tangan besar beliau cukup untuk meraih banyak benda sekaligus.
Itu mengingatkanku pada surel Mata-mata Biru. Kedua lengan yang Tante Mutia pakai untuk memberi makan anak-anaknya itu, apakah beliau sanggup memakainya untuk membunuh anak orang lain?
Aku tidak yakin apakah seorang Ibu seperti Tante Mutia sanggup membunuh seorang anak. Apalagi anak itu adalah anak yang punya nasib sama seperti beliau, anak yang sebatang kara. Dengan kasih sayangnya yang besar, sangat mustahil jika Tante Mutia menjadi seorang pembunuh.
“Reina, pakai celemekmu.” Tante Mutia menegurku karena masih diam mendekap lipatan celemek, alih-alih memakainya.
“Eh, baik, Tante,” balasku kelabakan. Buru-buru kupasang celemek polos berwarna krem yang sama seperti yang dipakai Tante Mutia.
Ah, Mata-mata Biru sialan! Kemarin Kak Dipa, sekarang Tante Mutia. Aku rasa jika terus begini, aku tidak akan pernah bisa menikmati waktuku di sini.
Tante Mutia menaruh talenan di atas meja dapur. Aku mendekat, meski masih bingung mau melakukan apa.
“Reina, bisa kau kupas bawang putih? Tante mau memotong bawang bombai dulu.”
Aku menurut. Kuambil bawang putih dan pisau untuk mengupas kulitnya. Di sebelahku, Tante Mutia memotong bawang bombai dalam sentakan yang teratur. Beliau tampak lihai memegang pisau. Bawang bombai yang semulanya utuh, lantas tercacah hingga membentuk dadu-dadu kecil.
Aku melangkah mundur ketika Tante Mutia berbalik mengambil bawang putih dariku dengan sebelah tangan yang masih memegang pisau. “Kau bisa menyalakan kompornya dan panaskan mentega di atas wajan, sekarang, sayang.”
Api biru merekah melalui tungku kompor. Kuletakkan wajan di atasnya, dan menuang satu sendok mentega, yang lalu meleleh. Tante Mutia mendekat untuk menuangkan potongan bawang dan mulai menumisnya, menimbulkan suara desisan dari wajan. Daging cincang menyusul tumisan bawang yang sudah mengeluarkan wangi, bersama bumbu-bumbu lainnya. Aroma tumisan itu menguar di dapur, memancing nafsu makanku.
Setelah memeriksa rasanya, Tante Mutia memberikan wajan itu padaku dan memintaku memindahkan tumisan daging ke mangkuk besar. Sedangkan Tante Mutia kemudian mengambil wajan lain dan menaruhnya di atas kompor yang masih menyala untuk memasak adonan dari campuran mentega, tepung, dan air kaldu daging. Saat adonan itu sudah setengah matang, beliau juga menambahkan keju.
“Adonannya sudah selesai! Tante mau menyiapkan tepung panir dan telur untuk lapisan luarnya. Kau campurkan adonan ini dan tumisan dagingnya.” Tante Mutia menyerahkan wajan berisi adona kepadaku, lalu berbalik ke lemari dapur. Sedangkan aku mulai mencampurkan tumisan daging dan adonan matang tadi.