Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #24

H+3 | Mendaki Bukit

Mulutku membentuk lubang besar, mataku sedikit berair, tetapi aku merasa lebih baik setelah terlelap selama satu jam. Kini, aku duduk di teras belakang bersama Kak Alia. Kami sama-sama menunggu Gara mengambil teropong.

Kak Alia nampak nyentrik karena memakai gaun floral dengan sepatu yang melekat di kakinya. Aku tidak menduga dia akan begitu terikat dengan selera berpakaiannya. Siapa yang akan memakai gaun saat mendaki bukit?

“Mau aku bantu, Kak?” Aku mendekati Kak Alia. Sejak tadi dia berkutat dengan tali sepatunya, sepertinya Kak Alia kesulitan mengikat tali sepatu itu.

Kak Alia menggeleng cepat. “Aku bisa melakukannya.” Wajahnya terlihat masam, mungkin Kak Alia masih kesal karena taman bunganya rusak. Aku juga masih merasa bersalah padanya.

“Kau masih mengantuk, Rei?” Gara akhirnya muncul, ia membuka pintu geser dengan kakinya.

“Tidak juga.”

“Sini aku lihat.” Gara berlutut di hadapanku, merapatkan kardigan yang aku kenakan, dan memeriksa sepatuku. “Bagus, semua aman.”

“Berhenti menggodaku. Aman, aman, memangnya kau pikir ini pendakian gunung berapi?”

Gara terkekeh. “Ini teropong untukmu.” Dia memberikan sebuah teropong hitam kepadaku, persis seperti teropong yang tergantung di lehernya. Aku menerima benda kecil itu dan mengalungkannya di leherku.

“Ini teropongmu, Kak.” Tak lupa Gara juga memberikan teropong Kak Alia.

“Ya.” balas Kak Alia, datar. Berbeda dengan teropongku dan Gara, teropong milik Kak Alia tampak seperti teropong jadul bergaya klasik yang rangkanya dilapisi perunggu.

Gara bangkit. “Berarti kita tinggal menunggu Ayah.”

Aku mendengar bunyi kelontang di belakangku, disusul sosok Om Arya yang melompat turun dari teras belakang dengan lincah. Saat itulah kudapati beliau tengah menyampirkan senapan di bahu. Aku mengeratkan cengkeramanku pada tepi papan teras.

“Apa semuanya sudah siap?” Om Arya menatap kami satu per satu.

“Sudah. Kami juga sudah punya teropong.” Gara mengangkat teropongnya.

Om Arya mengangguk. “Baiklah, sekarang dengar,” ungkapnya. “Hanya aku di sini yang hafal jalan menuju puncak bukit itu, jadi ikuti saja langkahku. Gara dan Alia mungkin masih sedikit mengingat jalan, tapi mereka sudah lama tidak ikut naik ke bukit bersamaku, jadi pasti ada jalan yang terlupakan. Reina, kau berjalan di belakangku, Alia setelahmu, dan biarkan Gara berjalan paling belakang.”

Aku pikir ini hanya kegiatan mendaki sambil menyusuri hutan yang sunyi. Instruksi Om Arya itu dan senapan di bahunya membuat pendakian kecil-kecilan ini terasa seperti kegiatan berbahaya.

“Apa ada sesuatu yang menyeramkan tentang bukit itu?” tanyaku.

“Jika yang kau maksud monster atau semacamnya, tentu tidak, Nak. Hanya ada hewan liar berbahaya, seperti ular atau babi hutan.”

Ya, itu cukup menyeramkan. Karena aku tidak ingin bertemu ular dan babi hutan.

“Aku pernah diserang babi hutan,” seloroh Gara.

“Apa?” Aku tidak tahu itu.

Lihat selengkapnya