Sudah satu jam berlalu sejak kami berbaring di dalam tenda, tetapi Kak Alia masih belum tidur. Dia terus memainkan senter, mematikan dan menyalakannya, berkali-kali.
Mau tidak mau, aku berpura-pura tidur menghadap Kak Alia. Berharap dia jadi ikut mengantuk melihatku. Rasanya tubuhku kaku karena bertahan tidak bergerak cukup lama.
Saat aku ingin memutar tubuh, tiba-tiba Kak Alia mengarahkan senter yang menyala ke arahku, rasanya silau sekali. Aku menahan mataku bergerak, supaya tidak ketahuan sedang pura-pura.
Hampir saja aku menyerah dan ingin menegurnya, Kak Alia lebih dulu mendekat sampai napasnya terasa menerpa wajahku, dia lalu berbisik, “Aku tidak suka kau, Reina. Dulu, iya, sebelum kemarin. Aku tahu kau memergokiku bicara dengannya, kan?” Lalu Kak Alia menghela napas. “Apa ucapanku barusan akan masuk ke dalam mimpimu? Sebaiknya jangan. Keluargaku akan marah padaku. Sebaiknya yang masuk di mimpimu adalah pesan ini: jangan memelihara rasa penasaran, beberapa hal tidak perlu kau ketahui, sebab itu akan membawamu dalam bahaya.”
Kak Alia mematikan senternya. Aku mendengar suara gesekan di sebelahku, yang berarti Kak Alia bergeser menjauh.
Aku tunggu hingga entah berapa lama, mungkin satu jam sudah berlalu lagi, sampai aku membuka sebelah mata untuk memantau keadaan. Kak Alia sudah tertidur pulas, menghadap ke arahku, mulutnya terbuka dan ada sedikit suara dari sana. Aku melambaikan tangan di depan wajahnya, tidak ada pergerakan. Dia benar-benar tertidur.
Aku meraba-raba celanaku. Ponsel dan tang masih ada di sana. Dengan pergerakan seminimum mungkin, aku bangkit, lalu membuka resleting tenda pelan-pelan, beberapa kali masih mencuri pandang ke Kak Alia, memastikan kalau dia masih terlelap di tempatnya.
Usai resleting tenda terbuka, aku melongokkan kepala ke luar. Di luar benar-benar gelap. Api unggun sudah dimatikan, hanya ada sedikit pantulan cahaya dari dalam tenda Om Arya dan Tante Mutia, dan tenda Gara dan Kak Dipa. Bayangan mereka bisa terlihat dari luar. Untungnya tidak ada pergerakan.
Sambil terus melihat ke sekitaran, aku memasang sendal, lalu bangkit perlahan. Kakiku hampir mati rasa karena harus bergerak sedikit demi sedikit. Aku menyalakan senter ponsel, dan mulai mengambil langkah menjauh dari tenda.
Langkahku lebar-lebar, namun perlahan, memastikan suara kersak akibat gesekan sandal dan rumput, tidak timbul, sekecil apapun. Di tengah jalan, ponselku tiba-tiba berdenting. Aku bergegas mengeceknya, untuk kemudian menemukan notifikasi muncul, surel dari Mata-mata Biru.
Entah apa yang dia kirimkan. Aku sudah menunggunya dari tadi subuh, dan dia baru membalas sekarang. Aku akan membukanya nanti, waktuku sudah banyak terbuang karena Kak Alia. Aku mematikan layar ponselku dan kembali berjalan, masih dalam langkah pelan.
Rumah keluarga Naratama hampir sepenuhnya gelap. Saat aku berhasil masuk ke bagian dapur, seperti biasa, hanya lampu yang ada di sana yang masih menyala. Di balik pintu kaca di depan taman, cahaya rembulan menampilkan bunga-bunga dan sedikit cahaya untuk taman.
Kegelapan paling menyeramkan aku temukan di bangunan depan. Hampir tidak ada cahaya di sini. Aku hanya mengandalkan bantuan ponsel. Untungnya aku sudah tau kemana aku akan pergi, lemari dapur.
Ketika aku membuka lemari besar itu, aku sempat kebingungan, karena pada awalnya tidak terlihat ada celah menuju ruang bawa tanah. Tetapi, setelah meraba dasar lemari cukup lama, aku menemukan celah yang tersembunyi, aku mengangkat papan dasar lemari itu melalui celah itu. Rasanya cukup sulit dan berat, karena aku harus membalik tangan untuk mengangkatnya. Mungkin akan lebih mudah dibuka dari bawah.
Bau debu menyambutku ketika papan itu terbuka. Di bawah sana ada sebuah tangga kecil yang terbuat dari semen. Jumlahnya mungkin tidak sampai sepuluh. Aku turun sambil menahan papan dasar lemari. Di bawah tidak gelap, ada lentera tergantung di dinding di dekat tangga.
Takut akan kesulitan keluar nanti, aku memutuskan melepas sendalku dan menyelipkannya di celah papan dasar lemari. Aku hanya bisa berdoa keluarga Naratama masih tidur saat aku keluar, jika tidak mau keluar buru-buru.
Sebuah lorong panjang menyambutku di depan sana. Seluruh lorong itu dilapisi semen, dari bagian langit-langit, dinding, hingga lantai. Tinggi ruang bawah tanah ini tidak sampai dua meter, dan lebarnya juga sama. Setiap sekitar dua meter, ada lentera yang menempel di sisi kiri dan kanan dinding, memancarkan cahaya kekuningan sepanjang lorong.
Aku hampir memekik saat melihat ada bercak coklat di lantai tepat di bawah anak tangga terakhir. Bulu kudukku meremang. Itu mungkin saja bekas darah. Aku mengambil tang dari saku celana. Hanya itu senjata yang aku punya. Entah apa yang bisa terjadi padaku jika ketahuan memasuki ruangan terlarang ini.
Waktu berjalan begitu lambat selama aku mengambil langkah. Aku hanya bisa mendengar deru napasku serta suara klepak dari sendal yang aku pakai. Ruang bawah tanah ini pengap, aku kesulitan bernapas.